Era Agentic AI Lagi Booming, Peran Enterprise Architect Makin Strategis

Enterprise Architect

Saat generative AI pertama kali muncul beberapa tahun lalu, banyak perusahaan hanya memosisikannya sebagai alat otomatisasi.

Namun kini, situasinya berubah drastis. Kehadiran agentic AI yang mampu bertindak dan menjalankan tugas secara mandiri mulai menjadi arus utama di software bisnis dan layanan SaaS.

Transformasi itu perlahan tetapi pasti mengubah cara kerja organisasi, khususnya di lingkungan teknologi informasi.

Salah satu peran yang ikut terdampak besar adalah enterprise architect. Enterprise Architect adalah seorang profesional yang bertugas merancang, mengelola, dan memastikan keselarasan antara strategi bisnis dan sistem teknologi informasi dalam sebuah organisasi.

Sebelumnya, salah satu enterprise architect adalah membuat diagram sistem, blueprint arsitektur, dan pengawasan pengembangan software, Kini tuntutannya bergeser, enterprise architect harus lebih memahami proses bisnis bukan hanya infrastruktur teknis.

Peran enterprise architect ditarik lebih dekat ke sisi bisnis untuk memastikan AI dapat memberikan nilai strategis bagi perusahaan.

Enterprise Architect Jadi Navigator Perubahan

Dorongan penggunaan AI datang langsung dari pucuk pimpinan perusahaan. Banyak CEO menginginkan AI untuk meningkatkan efisiensi dan pertumbuhan.

Gartner memprediksi 75 persen pekerjaan IT dalam lima tahun ke depan akan melibatkan AI sebagai bagian dari workflow harian.

Namun adopsi AI tidak bisa mengandalkan teknologi semata. Tanpa perubahan proses bisnis, investasi AI berisiko tidak menghasilkan apa-apa. Perusahaan harus berani merombak cara kerja lama jika ingin menuai manfaat nyata dari otomatisasi.

Dengan agentic AI yang mampu bekerja secara otonom, peran enterprise architect kini jauh lebih strategis. Kini enterprise architect berada di garis depan dalam merancang bagaimana software baru dikembangkan, diintegrasikan, dan digunakan oleh karyawan.

Diego Lo Giudice (Principal Analyst di Forrester) mengatakan AI bukanlah ancaman bagi industri software.

“Seperti Agile dan DevOps yang dulu mempercepat siklus software, AI kini mengubah pengembangan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya.

“Dalam sejarah pengembangan software, belum ada perubahan secepat ini,” kata Phil Whittaker (AI Staff Engineer di Umbraco)

Sistem Lebih Kompleks, Risiko Biaya Naik

Ketika agen AI mengambil alih tugas manual, kompleksitas sistem melonjak. Akan ada banyak agen, akses data terbuka, dan risiko keamanan meningkat. Itulah pekerjaan besar berikutnya bagi enterprise architect.

“Agen sangat mudah dibuat, tapi Anda perlu kontrol data dan segregasi yang jelas. Jika tidak, biaya cloud bisa meledak,” kata Tiago Azevedo (CIO OutSystems).

Kini enterprise architect tak hanya merancang sistem, tetapi juga menjadi penjaga keamanan, tata kelola data, dan kualitas output AI.

Enterprise architect menentukan tugas mana yang bisa dieksekusi agen deterministik dengan hasil pasti, dan mana yang boleh ditangani AI nondeterministik yang kreatif namun tidak selalu dapat diprediksi.

Hanya 1 dari 5 Proyek AI Berhasil

Penelitian Gartner menunjukkan bahwa hanya 20 persen proyek AI berhasil memberi ROI dan hanya 2 persen yang benar-benar menghasilkan transformasi besar. Artinya, keberhasilan AI sangat bergantung pada strategi penerapan bukan teknologinya saja.

Di titik ini, enterprise architect berperan sebagai dirigen orkestrasi AI, bukan sekadar perancang arsitektur sistem. Enterprise architect mengatur interaksi antara manusia, aplikasi, dan agen AI, memastikan setiap elemen bergerak sinkron.

Di tengah kekhawatiran bahwa AI akan menggeser peran enterprise architect , sejumlah pakar menilai sebaliknya.

Menurut Whittaker, AI membuat peran enterprise architect lebih luas. Peran enterprise architect lebih menjadi pengarah strategi, pengelola katalog agen, hingga pengawas implementasi AI di lini bisnis.

Tim teknologi ke depan tidak lagi sibuk menulis kode, karena AI mampu membantu pembuatan dan dokumentasi kode. Fokus utama manusia akan bergeser ke arsitektur, governance, keamanan, dan orkestrasi.

Tidak heran jika platform enterprise architect besar seperti Celonis, SAP Signavio, hingga ServiceNow kini menanamkan agentic AI sebagai fitur inti.

Peta Enterprise Bergeser

Agentic AI bukan lagi ide masa depan tetapi sudah hadir dan mulai mengambil posisi penting di software bisnis. Konsekuensinya, tata kelola teknologi di perusahaan juga berubah.

Enterprise architect kini menjadi navigator perubahan, pengarah agen AI, serta benteng pertahanan keamanan data.

Di masa depan, kemungkinan perusahaan akan dipenuhi agen AI yang bekerja berdampingan dengan manusia. Dan ketika itu terjadi, enterprise architect akan menjadi figur yang memastikan sistem tetap efisien, aman, dan terarah.

Baca Juga