Pertumbuhan ekonomi digital Asia Tenggara terus melesat. Menurut laporan terbaru Google, Temasek, dan Bain & Company, nilai ekonomi digital Asia Tenggara diperkirakan menembus USD300 miliar atau sekitar Rp4.800 triliun pada akhir 2025.
“Sepuluh tahun lalu kami menargetkan ekonomi digital Asia Tenggara bisa mencapai USD200 miliar pada 2025. Faktanya, bukan hanya tercapai, tapi sukses melampauinya tiga tahun lebih cepat,” ujar Sapna Chadha (Vice President untuk Asia Tenggara dan Asia Selatan Frontier di Google, seperti dikutip Channel News Asia).
Laporan e-Conomy SEA edisi ke-10 itu juga memperluas cakupan menjadi 10 negara, dengan menambahkan Brunei, Kamboja, Laos, dan Myanmar. Empat negara itu melengkapi enam negara yang sebelumnya sudah dianalisis yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
E-commerce Masih Jadi Raja
Sektor e-commerce tetap menjadi mesin utama ekonomi digital di kawasan. Nilai transaksinya diperkirakan mencapai USD185 miliar pada 2025, dengan pendapatan sekitar USD41 miliar.
Pertumbuhan pesat itu ditopang oleh skala ekonomi besar dari platform e-commerce terkemuka dan tren video commerce atau “shoppertainment”. Tren itu adalah perpaduan antara hiburan dan belanja daring yang kini menjadi fenomena baru di kawasan.
“Para kreator kini bisa membuat lebih dari 30 video setiap bulan untuk berinteraksi langsung dengan pembeli. Konsumen ingin merasa terhubung dengan penjual, bukan sekadar bertransaksi,” kata Florian Hoppe (Partner di Bain & Company).
Tren “shoppertainment” kini menyumbang sekitar 25 persen dari total penjualan e-commerce, melonjak tajam dibanding hanya 5 persen pada 2022.
Pariwisata Online Ikut Bangkit
Sektor perjalanan online juga mencatat pertumbuhan pesat, menempati posisi kedua setelah e-commerce. Kenaikan ini didorong oleh tingginya tarif penerbangan dan akomodasi, serta pelonggaran kebijakan visa di berbagai negara.
Pasca pandemi, wisata lintas negara di kawasan ASEAN kembali menggeliat terutama di destinasi populer seperti Bali, Bangkok, dan Singapura.
Singapura, Pusat Baru Investasi AI
Selain ekonomi digital, laporan tersebut juga menyoroti lonjakan investasi swasta di bidang kecerdasan buatan (AI).
Total pendanaan swasta di Asia Tenggara naik 15 persen dalam setahun terakhir menjadi sekitar USD8 miliar, dengan lebih dari USD2 miliar di antaranya mengalir ke startup AI.
Menariknya, lebih dari separuh investasi AI di kawasan (55 persen) mengalir ke Singapura yang kini menjadi hub utama AI regional dan magnet bagi infrastruktur digital global. Dari sekitar 700 startup AI di Asia Tenggara, 500 di antaranya berbasis di Singapura.
“AI kini menjadi tema investasi global yang tak bisa diabaikan,” ujar Fock Wai Hoong (Head of Southeast Asia di Temasek).
“Kami melihat dampak besar AI terhadap pendanaan digital, meski masih ada kehati-hatian soal valuasi,” tambahnya.
Pada paruh kedua 2024 hingga paruh pertama 2025, Singapura berhasil menarik USD1,31 miliar pendanaan AI swasta. Capaian itu menegaskan posisinya sebagai pusat kekuatan AI di kawasan.
Dominasi Singapura dalam AI juga menciptakan efek limpahan (spillover) ke negara tetangga. Dengan konsumsi energi yang sudah mendekati batas maksimum, penyedia layanan cloud kini mulai melirik Malaysia dan negara lain untuk memperluas jaringan pusat data.
Kapasitas data center di Asia Tenggara bahkan diperkirakan tumbuh 180 persen, jauh di atas rata-rata pertumbuhan kawasan Asia-Pasifik lainnya.
Masa Depan Cerah Ekonomi Digital ASEAN
Laporan e-Conomy SEA menggambarkan transformasi luar biasa Asia Tenggara dalam satu dekade terakhir.
Dari sekadar pengguna media sosial dan platform belanja daring, kini kawasan ini telah berkembang menjadi pasar digital terbesar dan paling dinamis di dunia berkembang.
Masa depan ekonomi digital ASEAN tampak semakin menjanjikan. Hal itu didukung oleh populasi muda, penetrasi internet yang tinggi, dan percepatan investasi di sektor AI serta infrastruktur digital.
“Asia Tenggara bukan hanya berhasil mencapai targetnya. Kami bangga melihat kawasan ini melampaui ekspektasi dan kini,seluruh dunia mulai melirik ke sini,” ujar ,” kata Sapna Chadha.


