Dunia korporat kini tak lagi sekadar bertanya apakah kecerdasan buatan (AI) mampu bekerja. Fokus industri telah bergeser drastis, dari sekadar pembuktian teknologi (proof of concept) menuju pembuktian dampak bisnis yang nyata.
Namun, di balik antusiasme tersebut, laporan terbaru mengungkap adanya jurang pemisah yang lebar antara jajaran eksekutif dan tenaga teknis dalam memandang nilai investasi AI.
Berdasarkan 2026 Industrial Technology Index dari TE Connectivity yang mensurvei 1.000 pemimpin C-suite dan pekerja teknologi global, indikator kesuksesan AI kini didominasi oleh penghematan biaya, tingkat pengembalian investasi (ROI), dan efisiensi tenaga kerja.
Tren itu kontras dengan tahun lalu, di mana metrik berbasis inovasi seperti desain produk dan analisis data masih menjadi primadona.
Benturan Perspektif: Efisiensi vs Strategi
Ketidakselarasan itu terlihat jelas pada cara kedua kelompok mendefinisikan nilai AI. Para eksekutif cenderung melihat AI melalui kacamata keuntungan operasional.
Laporan itu mencatat bahwa 71 persen pemimpin memprioritaskan peningkatan efisiensi dan produktivitas. Sementara itu, di kalangan engineer, angka tersebut hanya mencapai 60 persen.
Di sisi lain, para engineer lebih condong pada penguatan fondasi strategis yang bersifat jangka panjang seperti reputasi merek dan keunggulan kompetitif di pasar.
Pergeseran fokus dari inovasi menuju ROI konkret itu sebagian besar dipicu oleh tekanan finansial organisasi.
Kondisi ekonomi memaksa para pemimpin bisnis untuk mengejar imbal hasil yang dapat diukur secara instan di atas kertas.
Saat ini, tingkat adopsi AI memang telah melampaui 80 persen di berbagai organisasi. Namun, di balik angka adopsi yang masif tersebut, perdebatan mengenai cara terbaik mendefinisikan ROI terus bergulir tanpa titik temu yang jelas.
Risiko Terjebak Fokus Jangka Pendek
Laporan TE Connectivity memperingatkan bahwa akuntabilitas finansial kini mulai mengambil alih kendali penuh. Tekanan ekonomi global mendorong para eksekutif untuk menyelaraskan investasi AI sedekat mungkin dengan keuntungan jangka pendek.
Bahayanya, perusahaan berisiko terjebak pada pandangan yang terlalu sempit. Dengan hanya berfokus pada inisiatif AI yang memberikan hasil instan, organisasi bisa melewatkan berbagai inovasi transformatif yang berpotensi mengubah peta persaingan di masa depan.
Selain itu, inkonsistensi definisi ROI berpotensi memicu kebingungan massal di internal perusahaan. Menariknya, terdapat persepsi yang timpang, hampir sepertiga engineer merasa pimpinan mereka sudah memahami sepenuhnya soal ROI AI.
Padahal, faktanya hanya 19 persen eksekutif yang mengaku benar-benar memiliki “kejelasan penuh” terkait metrik tersebut.
Antusiasme di Tengah Ancaman Kreativitas
Meskipun visi mereka belum selaras, gairah untuk menerapkan teknologi ini dalam skala besar tetap tinggi. Sebanyak 45 persen engineer dan 49 persen eksekutif menyatakan keinginan bereksperimen dengan perangkat AI sesegera mungkin.
Namun, antusiasme ini dibayangi oleh kekhawatiran dari sisi teknis. Sekitar 40 persen engineer khawatir bahwa AI dapat membatasi kemampuan mereka dalam menggunakan penilaian pribadi atau kreativitas.
Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan kekhawatiran serupa di tingkat eksekutif yang hanya sebesar 27 persen.
Sikap hati-hati ini membuat para engineer lebih kritis dalam mempertanyakan apakah AI benar-benar menghadirkan inovasi yang bermakna atau sekadar alat pemotong biaya.
Ketegangan itu menunjukkan tantangan yang lebih dalam. Organisasi mengakui nilai AI, tetapi kesulitan menyepakati bagaimana nilai tersebut harus diukur.
Disparitas opini antara eksekutif dan engineer menciptakan sekat antara memandang AI sebagai kapabilitas teknis atau sekadar instrumen kelayakan finansial semata.
Kini, organisasi dihadapkan pada aksi keseimbangan yang rumit. Saat melakukan skalasi AI, para pemimpin harus mampu mendamaikan kebutuhan akan imbal hasil segera dengan potensi inovasi jangka panjang yang sejak awal membuat teknologi ini begitu memikat.


