Setahun lalu, optimisme terhadap kecerdasan buatan (AI) masih membumbung tinggi di kalangan pekerja. Namun, laporan terbaru menunjukkan tren tersebut berbalik arah secara drastis.
Berdasarkan survei nasional yang dirilis oleh organisasi nirlaba Jobs for the Future (JFF), sentimen pekerja kini justru bergeser ke arah skeptisisme yang nyata.
Data yang dihimpun dari 3.000 responden mengungkap fakta bahwa mayoritas pekerja kini memandang AI sebagai ancaman, bukan lagi sekadar alat bantu.
Sebanyak 44 persen responden menyatakan bahwa AI memberikan dampak negatif terhadap peluang mencari kerja, upaya membangun kesejahteraan, hingga kualitas hidup secara umum. Angka tersebut melampaui 38 persen responden yang masih meyakini AI akan memberikan dampak positif.
Jurang Ekspektasi dan Realitas di Lapangan
Ben Pring (Wakil Presiden Center for Artificial Intelligence & the Future of Work di JFF) menyoroti adanya ketimpangan tajam antara ekspektasi industri dan realitas yang dihadapi pekerja.
”Saat AI menjadi semakin lumrah dalam kehidupan kerja kita, teknologi ini tetap memiliki potensi membantu lebih banyak orang mengakses pekerjaan berkualitas, melatih keterampilan baru, dan membangun penghidupan yang berkelanjutan,” ujar Pring dalam pernyataan resminya.
Namun, ia tidak menutup mata terhadap keresahan AI yang berkembang di akar rumput. “Survei baru menunjukkan kekhawatiran yang tumbuh mengenai laju adopsi AI dan adanya celah yang nyata dalam dukungan yang diberikan oleh perusahaan,” tambahnya sebagaimana dikutip dari CIO Dive.
Krisis Pelatihan dan Ketimpangan Akses
Pemicu utama keresahan itu adalah minimnya akses terhadap pelatihan teknis. Jika tahun lalu kurang dari separuh karyawan mengaku memiliki sumber daya yang memadai untuk mengoperasikan AI, tahun ini angkanya justru merosot ke titik yang mengkhawatirkan hanya 36 persen.
Ironisnya, akses terhadap pengembangan diri itu tidak terdistribusi secara merata. Laporan JFF menemukan bahwa karyawan tanpa gelar sarjana memiliki peluang paling kecil mendapatkan pelatihan AI di tempat kerja. Kondisi itu bahkan lebih kontras dialami oleh kelompok perempuan dalam kategori pendidikan tersebut.
Padahal, dampak AI sudah menyentuh hampir seluruh lini karier:
Sebanyak 75 persen pekerja muda (awal karier) menyatakan AI telah mengubah cara mereka bekerja.
Sebanyak 64 persen pekerja senior juga merasakan pergeseran serupa dalam rutinitas profesional mereka.
Urgensi Upskilling
Melihat pergeseran lanskap itu, para pekerja menyadari bahwa berdiam diri bukanlah pilihan. Hampir separuh dari total responden menyatakan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan keterampilan (upskilling).
Kontras dengan hal tersebut, hanya 7 persen pekerja yang merasa AI tidak berpengaruh pada relevansi keterampilan mereka saat ini.
Kebutuhan ini pun dibayangi oleh tenggat waktu yang ketat. Sebanyak 29 persen responden merasa harus menguasai keterampilan baru dalam kurun waktu satu tahun ke depan.
Angka itu melonjak hingga 44 persen di kalangan pekerja kulit berwarna, mengindikasikan urgensi yang lebih tinggi pada kelompok minoritas dalam menghadapi persaingan global.
Tantangan bagi Pemimpin Perusahaan
Di sisi lain, para pemimpin perusahaan kini menempatkan literasi AI sebagai kompetensi fundamental, setara dengan kemampuan menulis dasar.
Laporan dari platform DataCamp pada Februari lalu menegaskan posisi AI sebagai pilar utama di tempat kerja modern.
Namun, di balik standar tinggi tersebut, terdapat “lubang” besar dalam implementasinya. Sekitar separuh pemimpin perusahaan mengakui adanya kesenjangan keterampilan (skill gap) yang signifikan di dalam organisasi.
Laporan Manpower Group mempertegas kondisi itu dengan menyatakan bahwa keterampilan terkait AI kini menjadi kemampuan yang paling sulit dicari oleh pemberi kerja secara global, bahkan menggeser dominasi keterampilan IT tradisional dan teknik manufaktur.
Pergeseran sentimen itu menjadi sinyal peringatan bagi dunia industri. Tanpa dukungan pelatihan yang inklusif dan terstruktur, AI yang digadang-gadang sebagai pendongkrak produktivitas justru berisiko menciptakan kecemasan massal dan memperlebar ketimpangan ekonomi di masa depan.


