Di tengah kompetisi adopsi teknologi finansial yang kian progresif, Citigroup mengambil langkah strategis dengan memperkenalkan Arc.
Platform inovatif ini dirancang khusus untuk membangun dan menyisipkan AI Agent (agen kecerdasan buatan) secara masif ke dalam jantung operasional bisnis perusahaan.
Bukan sekadar alat bantu tambahan, Arc hadir sebagai solusi automasi yang mampu menangani tugas-tugas manual yang selama ini memakan waktu.
Kehadirannya menandai babak baru bagi Citi dalam mengintegrasikan AI sebagai tulang punggung digital, mulai dari melakukan riset mendalam hingga menyiapkan data klien secara otomatis.
Industrialisasi AI di Seluruh Lini Bisnis
Pada fase awal, para pengembang di Citi akan memanfaatkan Arc untuk menciptakan agen AI spesifik guna menjawab kebutuhan departemen tertentu. Namun, visi perusahaan melampaui itu, akses ini nantinya akan diperluas ke seluruh organisasi.
Integrasi Arc ke dalam alur kerja harian diharapkan dapat menyajikan wawasan data yang lebih tajam sekaligus memangkas proses kerja repetitif.
Strategi itu bukan lagi tentang eksperimen skala kecil, melainkan tentang industrialisasi teknologi di seluruh level perusahaan.
”Untuk pertama kalinya, kami mengintegrasikan AI Agent di setiap lini bisnis dan setiap fungsi. Kami telah membangun infrastruktur industri untuk menjadikan AI Agent sebagai bagian inti dari cara kami melayani klien,” ujar David Griffiths, CTO Citi, sebagaimana dikutip dari CIO.
Amunisi Baru di Sektor Perbankan
Langkah agresif Citi ini selaras dengan pergeseran global. Laporan Top Banking Trends for 2026 dari Accenture menunjukkan bahwa industri perbankan memang sedang bergerak menuju automasi total. Tren ini didukung oleh optimisme para petinggi sektor keuangan:
Sekitar 60 persen eksekutif perbankan yakin AI Agent akan tertanam sepenuhnya dalam fungsi risiko, kepatuhan, audit, hingga deteksi penipuan dalam tiga tahun ke depan.
Sekitar 56 persen eksekutif memperkirakan teknologi ini akan diadopsi secara luas untuk fungsi Know Your Customer (KYC), penilaian kredit, hingga pemrosesan pinjaman.
Citi tidak sendirian dalam perlombaan ini. Raksasa keuangan seperti BNY dan Morgan Stanley juga telah mengayunkan langkah serupa.
Morgan Stanley, misalnya, tengah mengembangkan agen AI untuk menangani tugas rutin agar penasihat keuangan mereka dapat lebih fokus pada interaksi nasabah.
Sementara itu, BNY telah mengoperasikan “karyawan digital” yang mampu memperbaiki kode pemrograman tingkat rendah secara mandiri.
Modernisasi di Bawah Kepemimpinan Baru
Peluncuran Arc merupakan bagian integral dari agenda besar CEO Citi, Jane Fraser, dalam merombak infrastruktur bank secara menyeluruh.
Dalam laporan pendapatan kuartal pertama 2026 bulan lalu, Fraser menegaskan bahwa fokus utama perusahaan adalah memanfaatkan AI untuk mendongkrak pendapatan, memperkaya pengalaman klien, dan mengakselerasi perbaikan proses internal.
Ambisi itu diperkuat dengan bergabungnya Brian Saluzzo sebagai CIO (Chief Information Officer) pada Maret lalu.
Veteran TI jasa keuangan yang juga mantan eksekutif Google ini mengemban mandat krusial yaitu memastikan skala penggunaan AI di Citi berkembang secara eksponensial dan terukur.
Kapasitas SDM, Fondasi Utama Transformasi
Citi menyadari bahwa teknologi mutakhir hanya akan efektif jika didukung oleh kesiapan sumber daya manusia. Karena itu, perusahaan gencar memberikan pelatihan intensif bagi pegawainya.
Hasilnya cukup signifikan, saat ini lebih dari 80 persen dari 180.000 karyawan Citi yang memiliki akses ke alat AI sedang menggunakannya secara rutin.
Mayoritas dari mereka juga telah menyelesaikan pelatihan prompting untuk memastikan transisi kerja bersama AI berjalan optimal.
Melalui Arc, Citi tidak sekadar mengikuti arus tren teknologi. Citi sedang membangun ekosistem masa depan di mana AI menjadi rekan kerja nyata bagi ratusan ribu pegawainya di seluruh dunia.


