Bye-Bye Ribet! 2026 Jadi Tahunnya Agentic AI, Si Asisten Pintar Pengatur Liburan

​Bayangkan skenario ini, anda berencana berlibur ke Bali akhir pekan depan, tetapi enggan menghabiskan waktu berjam-jam membandingkan harga tiket, mencari hotel ramah lingkungan, hingga memesan resto dengan menu khusus gluten-free.

​Memasuki tahun 2026, kerumitan itu mulai memudar. Anda tidak perlu lagi membuka belasan tab di browser.

Cukup berikan perintah singkat dan asisten digital Anda akan mengeksekusi segalanya mulai dari riset, negosiasi harga, hingga pembayaran otomatis dalam satu waktu.

​Selamat datang di era Agentic AI. Ini bukan sekadar tren, melainkan lompatan teknologi yang diprediksi akan mengubah total wajah industri pariwisata dan perhotelan (hospitality) mulai tahun ini.

​Bukan Sekadar Chatbot, Ini Adalah Agen Berotoritas

​Berbeda dengan AI generatif versi awal yang hanya bisa menjawab pertanyaan, Agentic AI bertindak sebagai agen yang memiliki otoritas untuk mengambil keputusan.

Menurut laporan terbaru IDC FutureScape: Worldwide Hospitality, Dining, and Travel 2026, wisatawan kini mulai beralih menggunakan agen pintar itu untuk mengevaluasi opsi perjalanan berdasarkan preferensi pribadi yang sangat spesifik.

​Artinya, AI tidak hanya menyarankan hotel secara umum. AI memahami bahwa Anda lebih suka kamar di lantai atas dengan akses gym saat subuh.

Hebatnya, asisten AI ini akan langsung menyelesaikan pemesanan tersebut untuk Anda hanya dalam hitungan detik.

​”Pintu Depan” Baru bagi Industri Wisata

​Pergeseran itu menjadi tantangan besar bagi pemilik hotel, maskapai, dan restoran. Dulu, mereka berlomba-lomba muncul di halaman pertama mesin pencari (SEO) atau aplikasi pemesanan populer. Kini, “pintu depan” pariwisata berpindah ke tangan asisten AI.

​IDC memprediksi bahwa pada tahun 2030, sekitar 30 persen pemesanan perjalanan akan dieksekusi sepenuhnya oleh agen AI.

Konsekuensinya pun nyata, jika data sebuah hotel tidak lengkap, tidak diperbarui secara real-time, atau berantakan, maka hotel tersebut akan otomatis “menghilang” dari radar pilihan si agen AI.

​Personalisasi Canggih Lewat Ambient Intelligence

​Pernah merasa risih dengan iklan hotel yang terus menghantui padahal liburan Anda sudah selesai?. Era gangguan itu akan segera berakhir. Dengan Agentic AI, personalisasi menjadi lebih halus dan proaktif, atau yang dikenal sebagai Ambient Intelligence.

​Berdasarkan ramalan IDC, 50 persen anggaran AI di sektor pariwisata kini dialokasikan khusus untuk memperkuat personalisasi ini.

Berikut adalah dampaknya di berbagai sektor seperti dikutip IDC:

​Hotel: Kamar akan menyesuaikan suhu dan pencahayaan secara otomatis sesaat setelah Anda masuk, menyesuaikan dengan profil data preferensi Anda.

​Restoran: Menu digital akan langsung merekomendasikan hidangan berdasarkan riwayat kesehatan atau selera unik Anda.

​Maskapai: Jika terjadi keterlambatan pesawat, agen AI akan secara proaktif memesankan tiket penerbangan lain bahkan sebelum Anda sempat merasa panik.

​Masa Depan Superapps dan Dompet Digital

​Tren itu juga mempercepat lahirnya superapps yang terintegrasi dengan dompet digital. Identitas, poin loyalitas, dan metode pembayaran akan berkumpul menjadi satu ekosistem.

IDC memprediksi sekitar 25 persen brand besar dunia akan meluncurkan superapps berbasis AI ini pada tahun 2030.

​Namun, semua kemudahan ini membutuhkan satu syarat mutlak yaitu akurasi data. Bagi para pelaku industri, mengelola data bukan lagi sekadar urusan tim IT di kantor belakang, melainkan strategi inti untuk bertahan dalam persaingan.

​Tahun 2026 menjadi titik balik yang krusial. Pemenang di industri ini bukan lagi mereka yang hanya memiliki poin loyalitas terbanyak, melainkan mereka yang datanya paling “sinkron” dengan asisten AI para tamu.

Bagi konsumen, perjalanan kini bukan lagi soal teknis pemesanan, melainkan tentang pengalaman yang lebih personal, cepat, dan pastinya, jauh lebih santai.

 

Baca Juga

Investasi Cerdas! Microsoft Raup Cuan Rp120 Triliun dari OpenAI

​Dalam laporan laba kuartal terbaru yang dirilis Rabu lalu, raksasa perangkat lunak itu mengungkap fakta mencengangkan. Laba bersih Microsoft melonjak sebesar USD7,6 miliar atau sekitar Rp120 triliun yang bersumber murni dari investasinya di OpenAI.