Alih-alih memangkas jumlah karyawan. Kini semakin banyak perusahaan menginvestasikan kembali keuntungan produktivitas dari kecerdasan buatan (AI) untuk memperluas otomatisasi, riset, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM).
Temuan itu terungkap dalam laporan terbaru EY U.S. AI Pulse Survey, yang memotret bagaimana dunia korporasi memanfaatkan AI di tengah kekhawatiran publik soal potensi pemutusan hubungan kerja (PHK).
Dalam survei tersebut, EY mewawancarai 500 pengambil keputusan dari berbagai industri di Amerika Serikat (AS). Hasilnya menunjukkan mayoritas responden merasakan peningkatan produktivitas berkat adopsi AI.
Hampir separuh perusahaan menyatakan akan menyalurkan keuntungannya untuk memperkuat kapabilitas AI dan memperluas penerapannya di organisasi.
Menariknya, hanya 17 persen responden yang mengakui penggunaan AI berdampak langsung pada pengurangan tenaga kerja.
Sebaliknya, sebagian besar perusahaan justru memanfaatkan teknologi ini untuk memperluas operasi sekaligus meningkatkan kemampuan karyawan.
“Perusahaan yang ingin unggul dari pesaing harus terus berinvestasi pada manusia dan kreativitas. Penilaian ini tidak bisa digantikan oleh model AI,” ujar Dan Diasio (Global Consulting AI Leader EY) kepada CIO Dive.
Temuan itu mencerminkan pergeseran strategi yang cukup signifikan di dunia korporasi. Jika sebelumnya AI kerap dipandang sebagai alat efisiensi biaya dan pemangkasan SDM, kini pendekatan tersebut mulai ditinggalkan. Fokus perusahaan beralih pada penciptaan nilai yang berdampak langsung pada pengalaman pelanggan.
“Secara luas, organisasi mulai menjauh dari strategi pengurangan headcount dan beralih ke hasil yang mampu meningkatkan customer experience,” kata Diasio.
Menurutnya, komitmen perusahaan terhadap tenaga kerja justru semakin menguat. Untuk setiap satu perusahaan yang memangkas jumlah karyawan, terdapat lebih banyak perusahaan lain yang memilih menggunakan keuntungan dari AI untuk upskilling dan pengembangan talenta.
Laporan EY juga menyoroti korelasi kuat antara skala investasi dan hasil yang diperoleh. Perusahaan yang mengalokasikan dana USD10 juta atau lebih untuk inovasi AI melaporkan peningkatan produktivitas signifikan, dengan tingkat keberhasilan mencapai 71 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang berinvestasi dalam skala lebih kecil.
Tren itu menunjukkan bahwa organisasi paling maju dalam adopsi AI tidak memandang teknologi ini semata sebagai alat pemotong biaya, melainkan sebagai katalis penciptaan nilai jangka panjang.
Seiring semakin luasnya penggunaan AI, perhatian terhadap aspek etika dan transparansi juga meningkat. Sebanyak 68 persen responden menyatakan fokus organisasi mereka terhadap praktik AI yang bertanggung jawab akan semakin besar dalam satu tahun ke depan.
“Kami melihat kurva kematangan di mana tata kelola AI bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan prasyarat untuk bisa berkembang dalam skala besar,” ujar Diasio.
“Tantangan berikutnya bukan hanya soal kebijakan, tetapi memastikan transparansi tetap terjaga ketika jejak AI di dalam organisasi terus meluas,” katanya.
Secara keseluruhan, temuan itu menegaskan bahwa AI bukan ancaman bagi tenaga kerja. Dengan investasi, tata kelola, dan visi yang tepat, AI justru menjadi alat untuk memperkuat peran manusia di dunia kerja, bukan menggantikannya.


