Bukan Lagi Gimik, Bank Raksasa Dunia Mulai ‘Panen’ Efisiensi AI pada 2026

Ilustrasi Bank of America

Jika tahun 2024 dan 2025 merupakan fase “pemanasan” bagi kecerdasan buatan (AI) di sektor finansial, maka 2026 menjadi tahun pembuktian.

Para petinggi bank investasi global kini tak lagi sekadar berdiskusi soal teori, melainkan fokus pada realisasi pengembalian investasi (Return on Investment) dari modal triliunan rupiah yang dikucurkan.

​Dalam laporan laba kuartal keempat (Q4) 2025 yang dirilis pekan ini, jajaran CEO dari BNY, Bank of America, hingga Goldman Sachs memaparkan ambisi menyulap AI menjadi mesin efisiensi operasional yang nyata.

Dari Chatbot Pasif ke AI Agent Mandiri

​Tren perbankan tahun ini resmi bergeser dari penggunaan chatbot sederhana menuju AI Agents yang otonom. Berdasarkan laporan Top Banking Trends 2026 dari Accenture, bank-bank besar mulai merasakan dampak instan AI pada manajemen risiko, layanan pelanggan, hingga otomatisasi penulisan kode perangkat lunak (coding).

​CEO BNY Robin Vince mengungkapkan bahwa perusahaannya telah mengintegrasikan kemampuan Google Gemini ke dalam platform AI internalnya Eliza. Langkah itu mempertegas posisi BNY dalam mengadopsi teknologi OpenAI secara massal.

​”Seiring berjalannya waktu, AI memungkinkan kami merombak banyak proses dan sistem dengan cara baru yang sangat menarik,” ujar Vince dalam earnings call.

​Investasi Besar Demi Keuntungan Jangka Panjang

​Langkah transformasi ini tentu tidak murah. Bank of America, misalnya, telah menggelontorkan dana hingga ratusan juta dolar untuk mengawal 20 proyek AI yang sedang berjalan.

Meski membutuhkan modal besar, CEO Bank of America, Brian Moynihan, tetap optimistis hasil optimal akan mulai terlihat sepanjang tahun ini.

​”Kami akan mendapatkan manfaat lebih besar saat teknologi ini diimplementasikan secara penuh di seluruh lini perusahaan,” tutur Moynihan pada Rabu (14/1).

​Optimisme serupa datang dari Citigroup. Di bawah kepemimpinan Jane Fraser, raksasa finansial ini tengah membedah 50 proses paling kompleks mulai dari prosedur Know Your Customer (KYC) hingga analisis kredit (loan underwriting).

Tujuannya jelas, Citigroup ingin menyederhanakan birokrasi dan memangkas biaya operasional yang selama ini membebani neraca keuangan.

​Proyeksi Efisiensi Biaya Hingga 20 Persen

​Laporan Global Banking Annual Review 2025 dari McKinsey & Company memprediksi bahwa adopsi AI dapat memangkas biaya industri perbankan global hingga 20 persen.

Angka ini sangat signifikan bagi industri yang secara historis sangat bergantung pada proses administratif manual yang padat karya.

​Bagi Goldman Sachs, efisiensi itu bukan sekadar soal penghematan tetapi bahan bakar untuk ekspansi.

​”Jika kami bisa menciptakan fleksibilitas operasional, teknologi ini akan membebaskan kapasitas dana untuk berinvestasi di area pertumbuhan baru,” kata CEO Goldman Sachs, David Solomon, seperti dikutip dari CIO Dive.

​Manusia Sebagai Pengendali Strategis

​Meski AI mulai mengambil alih tugas-tugas teknis, para pakar menekankan bahwa peran manusia tidak akan hilang, melainkan berevolusi. Michael Abbott dari Accenture menegaskan bahwa kunci sukses di tahun 2026 adalah “pemberdayaan”.

​Menurut Abbott, tugas utama Direktur Teknologi (CIO) saat ini adalah membangun infrastruktur yang memungkinkan setiap karyawan dari divisi hukum, HR, hingga staf kantor cabang memanfaatkan AI dalam pekerjaan sehari-hari.

​”Generative AI akan mengubah cara kerja di setiap lini. Namun, transformasi itu tidak akan terjadi sampai sistemnya benar-benar diaktifkan dan didukung sepenuhnya oleh sumber daya manusia sebagai pengawasnya,” pungkas Abbott.

 

Baca Juga

Investasi Cerdas! Microsoft Raup Cuan Rp120 Triliun dari OpenAI

​Dalam laporan laba kuartal terbaru yang dirilis Rabu lalu, raksasa perangkat lunak itu mengungkap fakta mencengangkan. Laba bersih Microsoft melonjak sebesar USD7,6 miliar atau sekitar Rp120 triliun yang bersumber murni dari investasinya di OpenAI.