Tahun depan akan jadi ujian bagi para Chief Information Officer (CIO). Di tengah gejolak ekonomi dan ledakan kecerdasan buatan (AI), para CIO harus mampu menata ulang bujet teknologi dengan kepala dingin dan strategi tajam.
Jika ditilik, ada tiga area utama yang harus menjadi perhatian khusus CIO. Tiga area tersebut adalah menyusun ulang strategi AI, memangkas pemborosan tersembunyi, dan memperkuat investasi keamanan siber.
Menyusun Ulang Strategi AI
Gelombang AI membuat pengeluaran IT global melonjak. Survei West Monroe mencatat lebih dari 80 persen perusahaan sudah menaikkan bujet IT setahun terakhir. Selain itu, 85 persen juga akan melakukannya lagi pada 2026. Namun lonjakan itu datang dengan konsekuensi: setiap rupiah pengeluaran kini ditelisik lebih detail.
“CIO dituntut berpikir lebih strategis dalam setiap pengeluaran,” ujar Nate Buniva (Partner dan M&A Transformation Leader di West Monroe).
Menurutnya, euforia AI memang positif tapi setiap investasi harus punya dampak nyata. “AI bukan soal ikut tren, tapi bagaimana hasilnya bisa diukur dan memperkuat bisnis,” katanya seperti dikutip CIO Dive.
Hal senada disampaikan Alex Bakker (Director of Primary Research di ISG). Ia memprediksi tahun depan akan muncul proyek-proyek AI yang benar-benar terbukti berhasil. “Sejauh ini, mereka masih bereksperimen. Tapi 2026 akan jadi tahun di mana praktik terbaik mulai menyebar lintas industri,” ujarnya.
Pangkas Pemborosan yang Tak Terlihat
Bujet yang naik bukan berarti bisa dihamburkan. Banyak perusahaan tanpa sadar membayar ganda untuk alat serupa atau layanan tumpang tindih. “Area seperti software kolaborasi dan produktivitas sering kali jadi sumber pemborosan,” kata Buniva.
Masalahnya, pemborosan ini sering muncul dari lemahnya koordinasi antar divisi. Ketika tiap unit membeli perangkat atau langganan sendiri tanpa sepengetahuan tim IT, biaya bisa melonjak tanpa disadari.
Selain itu, pengeluaran cloud juga perlu diaudit ulang. CIO harus menegosiasikan kontrak dengan vendor besar untuk memperpanjang kontrak satu tahun bila strategi belum matang.
Pilihan lainnya, para CIO bisa memilih kontrak multi-tahun dengan vendor untuk mendapatkan potongan harga yang lebih baik. “Itu pekerjaan rumah penting saat proses budgeting dimulai,” tegas Buniva.
Keamanan dan Quantum Jadi Sorotan Baru
Jika AI adalah mesin pendorong inovasi, keamanan siber adalah tameng utamanya. Laporan Forrester Budget Planning Guide 2026 mencatat, 43 persen pemimpin teknologi akan menaikkan bujet keamanan dan riset di atas inflasi.
Ancaman baru pun mulai muncul dari horizon komputasi kuantum. “Isu soal quantum bukan lagi masa depan jauh, tetapi sudah di depan mata,” kata Greg Zorella (Principal Analyst di Forrester).
Studi Unisys menunjukkan, sebanyak 71 persen pemimpin IT mengaku pertahanan siber mereka belum siap menghadapi serangan berbasis quantum cryptography. Sebagai antisipasi, IBM bahkan mengalokasikan USD150 miliar untuk riset dan manufaktur di AS, termasuk USD30 miliar untuk komputasi kuantum dan mainframe.
Zorella menyarankan CIO meninjau ulang investasi mereka, apakah memperkuat sistem keamanan sekarang, atau menunggu generasi perangkat keras yang lebih “quantum-ready”.
Antara Efisiensi dan Keberanian
Tahun 2026 bukan sekadar soal menambah anggaran, tapi bagaimana menyeimbangkan efisiensi dan keberanian berinovasi. CIO yang sukses bukan yang paling banyak berbelanja, tapi yang tahu di mana setiap rupiah berdampak paling besar.
Dengan strategi AI yang terarah, disiplin anggaran, dan keamanan yang kokoh, para CIO bisa menavigasi gelombang perubahan teknologi. Langkah ini akan membawa perusahaan berlayar menuju masa depan digital yang lebih aman, cerdas, dan berkelanjutan.


