Awalnya, migrasi ke cloud digadang-gadang sebagai jalan menuju efisiensi dan fleksibilitas infrastruktur TI. Perusahaan berharap cloud membuat infrastruktur TI lebih ramping, hemat biaya, dan mudah dikelola. Namun, realitas di lapangan jauh berbeda. Banyak perusahaan justru mengeluh tagihan cloud yang terus naik dari bulan ke bulan, hingga membengkak tak terkendali.
Sebuah survei VMware kepada petinggi IT global menegaskan hal tersebut. Sekitar 31% responden mengakui, terjadi pemborosan pada anggaran cloud mereka. Artinya, miliaran rupiah hilang begitu saja setiap bulan hanya karena pemakaian cloud yang tidak efisien.
Akar Masalah
Rob Tiffany (Research Director di IDC) menilai masalah terbesar bukan semata pada teknologinya, melainkan perilaku organisasi. Banyak CIO di perusahaan besar terlalu percaya pada vendor raksasa seperti Microsoft, AWS, atau Google. Mereka beranggapan cukup menandatangani kontrak dengan vendor besar, semuanya akan berjalan mulus.
Padahal, vendor-vendor besar itu kerap membangun ekosistem tertutup. Setiap layanan saling terintegrasi di dalam ekosistem tersebut, sehingga menyulitkan pelanggan untuk keluar atau pindah ke layanan lain. Belum lagi adanya klausul tersembunyi, biaya tambahan tidak transparan, hingga auto-renewal tanpa evaluasi. Alhasil, tagihan cloud terus membengkak.
“CIO mengira cukup tanda tangan kontrak, semua akan beres. Nyatanya, biaya naik terus tanpa fleksibilitas,” ujar Tiffany seperti dikutip CIO.
Bentuk Pemborosan yang Sering Terjadi
Ada beberapa pola pemborosan cloud yang berulang ditemukan di banyak organisasi:
- Overprovisioning. Pada kasus ini, perusahaan membeli kapasitas cloud lebih besar dari yang dipakai. “Ada kasus perusahaan hanya menggunakan 3 persen dari kapasitas VM yang mereka bayar,” jelas Tiffany.
- Environment yang lupa dimatikan. Developer environment dibiarkan aktif siang malam, padahal hanya dipakai saat jam kerja.
- Shadow IT. Divisi atau departemen membeli layanan cloud sendiri tanpa sepengetahuan IT pusat. Akibatnya, terjadi duplikasi lisensi SaaS dan pemborosan besar.
- Tagihan rumit. Struktur harga yang sengaja dibuat kompleks oleh vendor membuat perusahaan kehilangan visibilitas terhadap aliran uang mereka.
Roman Rylko (CTO Firma konsultan IT Pynest) membagikan contoh nyata dari kliennya. “Developer environment berjalan 24/7, padahal tim hanya memakainya saat jam kerja. Setelah dijadwalkan otomatis mati di malam hari, penghematan langsung terasa di bulan pertama,” ungkapnya.
Ubah Mindset dan Gunakan Alat yang Tepat
Menurut para analis, pemborosan cloud membutuhkan kombinasi antara strategi teknis dan perubahan budaya organisasi.
1. Audit Kontrak Secara Berkala
CIO perlu membaca setiap klausul dengan teliti, memastikan tidak ada biaya tersembunyi. Kontrak juga harus memberi mekanisme chargeback untuk layanan yang tidak terpakai. Tanpa itu, pemborosan yang terdeteksi sekalipun tetap akan terus ditagihkan.
2. Integrasikan FinOps dengan Akses Penuh
Tools FinOps (Financial Operations) semakin populer untuk membantu organisasi melacak dan mengoptimalkan pengeluaran cloud. Namun, kesalahan banyak perusahaan adalah hanya memberikan akses terbatas. Akibatnya, fungsi pemantauan biaya tidak berjalan maksimal.
“Itu ibarat memiliki sepeda motor tapi tidak boleh dipakai jalan ke mana-mana. FinOps harus bisa melihat semua, dari VM menganggur sampai resource yang tak pernah disentuh,” jelas Tiffany.
3. Manfaatkan Agentic AI
Mengelola pengeluaran cloud selama ini dianggap pekerjaan detail yang tidak memberi nilai tambah langsung bagi karir CIO atau tim IT. Namun hadirnya agentic AI bisa mengubah permainan.
Alih-alih membebani staf yang sudah kewalahan, agen virtual bisa ditugaskan melacak duplikasi, resource menganggur, hingga pemborosan 24/7. Dengan cara ini, CIO bisa fokus ke strategi besar, sementara AI menangani efisiensi biaya di balik layar.
“Dulu alasan klasik CIO adalah: ‘Saya tidak punya tenaga untuk itu.’ Sekarang dengan agentic AI, pekerjaan itu bisa dialihkan ke agen virtual,” tambah Tiffany.
Bangun Budaya Sadar Biaya
Meski alat bantu penting, budaya kerja tetap menjadi kunci. Rylko menegaskan, masalah optimasi cloud bukan sekadar urusan keuangan, tapi juga budaya development.
“Kalau engineer tidak paham setiap VM atau container itu menghabiskan uang, laporan CFO sebanyak apa pun tidak akan membantu,” tegasnya.
Solusinya adalah membuat tim engineering bertanggung jawab langsung atas pengeluaran cloud. Bahkan, perusahaan bisa menghubungkan bonus atau insentif dengan keberhasilan menekan biaya.
Dengan begitu, tim akan merasakan sendiri “sakitnya” ketika budget bengkak dan akan lebih berhati-hati ke depannya.
Pada akhirnya, cloud bisa kembali menjadi alat efisiensi yang dijanjikan asal dikelola dengan disiplin, transparan, dan penuh kesadaran.


