Belanja AI Meroket, Amazon Kerek Investasi Cloud hingga USD220 Miliar

​Sektor komputasi awan (cloud) global sedang mencatatkan gelombang pertumbuhan yang masif. Demi menopang ekspansi kecerdasan buatan (AI), perusahaan di seluruh dunia kini mengalokasikan anggaran belanja cloud hingga menembus angka USD500 miliar.

​Merespons tren tersebut, Amazon Web Services (AWS) kembali mempertegas komitmennya dengan menggelontorkan investasi jumbo.

Langkah agresif itu diambil untuk memperluas kapasitas infrastruktur sekaligus mengimbangi lonjakan permintaan korporasi terhadap layanan berbasis AI.

​Dominasi AWS di Tengah Rekor Pertumbuhan Pasar

​Berdasarkan data terbaru dari lembaga riset Synergy Research Group, belanja korporasi untuk layanan infrastruktur cloud melonjak hingga USD143 miliar pada kuartal kedua 2026.

Angka itu meningkat signifikan dari USD100 miliar pada kuartal sebelumnya. Secara tahunan (year-over-year), ekspansi itu mencatatkan rekor pertumbuhan selama 11 kuartal berturut-turut dengan lonjakan mencapai 43 persen, menjadi laju pertumbuhan tertinggi dalam delapan tahun terakhir.

​Lonjakan itu didorong oleh kebutuhan mendesak perusahaan akan infrastruktur yang tangguh guna mewujudkan sistem AI otonom (agentic AI).

Laporan terbaru dari Omdia mencatat bahwa para penyedia layanan cloud berskala besar (hyperscalers) kini berfokus pada efisiensi sumber daya, skala infrastruktur, dan kekuatan penawaran agen AI sebagai pembeda utama di pasar.

​“Layanan cloud khusus GenAI tumbuh sebesar 165 persen dari tahun ke tahun. Namun yang tidak kalah penting, kini teknologi AI juga mendongkrak fungsionalitas dan pertumbuhan yang lebih luas di berbagai layanan cloud lainnya,” ungkap John Dinsdale (Kepala Analis Synergy Research Group), seperti dikutip CIO Dive.

​Di tengah ketatnya persaingan, AWS tetap kokoh memimpin pasar dengan pangsa 28 persen. Posisi tersebut disusul oleh Microsoft Azure di angka 20 persen dan Google Cloud sebesar 15 persen.

Lonjakan Finansial dan Akselerasi Migrasi

​Dinamika positif di sektor cloud turut mengerek performa finansial Amazon secara keseluruhan. Dalam konferensi pers laporan keuangan kuartal kedua, jajaran eksekutif Amazon mengumumkan total pendapatan perusahaan mencapai USD 200,6 miliar atau tumbuh 20 persen secara tahunan.

CEO Amazon, Andy Jassy, mengungkapkan bahwa pendapatan tahunan berjalan AWS kini telah menyentuh angka USD 169 miliar. ​

“Kami memperkirakan hubungan ini akan semakin kuat seiring dengan makin banyaknya beban kerja AI yang masuk ke tahap produksi penuh dan mendatangkan tambahan permintaan untuk layanan inti kami,” ujar Olsavsky.

​Senada dengan hal tersebut, CFO Amazon Brian Olsavsky menjelaskan bahwa pelanggan terus meningkatkan aktivitas migrasi cloud dan memperluas pemanfaatan layanan inti AWS sepanjang kuartal ini. Perusahaan melihat adanya korelasi langsung antara belanja AI pelanggan dan pertumbuhan layanan inti, di mana adopsi AI terbukti mempercepat transisi korporasi ke ranah cloud.

​Strategi Ekspansi dan Proyeksi Belanja Modal (CapEx)

​Sejalan dengan ambisi memperbesar kapasitas, Amazon menaikkan proyeksi belanja modal (capital expenditure / CapEx) tahun ini menjadi USD 220 miliar, dari estimasi awal sebesar USD200 miliar. Jassy memaparkan bahwa porsi terbesar dari dana tersebut akan dialirkan untuk investasi AI dan pengembangan AWS.

​Langkah serupa turut ditempuh oleh Google yang meningkatkan belanja modalnya pada kuartal ini. Di sisi lain, Microsoft memilih mempertahankan rencana investasinya dengan menyoroti pertumbuhan positif pada Azure serta lini aplikasi dan layanan AI mandiri mereka.

​Di tengah upaya memperluas kapasitas komputasi, Jassy menyatakan bahwa perusahaan kini memiliki keuntungan yang kuat dari pusat data (data center) dan peladen (server) yang dibangun.

Amazon memproyeksikan keuntungan dari penanaman modal ini akan mulai terlihat dalam waktu sekitar dua tahun ke depan, seiring beroperasinya perangkat keras tersebut.

Ke depan, manajemen memperkirakan laju pertumbuhan pendapatan akan melampaui kenaikan belanja modal dalam beberapa tahun mendatang.

​“Kami pernah melakukan hal ini sebelumnya pada era awal komputasi awan, hanya saja dengan rentang waktu yang lebih panjang karena permintaan saat itu tumbuh secara bertahap dibandingkan era AI sekarang,” jelas Jassy.

​Menurutnya, marjin dan tingkat pengembalian investasi (returns) dari sektor AI saat ini bergerak selaras atau bahkan sedikit lebih cepat dibandingkan titik evolusi layanan komputasi non-AI di masa lalu.

​Meski meyakini bahwa AWS dan Amazon tetap dapat membangun bisnis yang sukses tanpa harus memiliki model frontier (model dasar berskala masif) sendiri, perusahaan tetap mengembangkannya demi mengendalikan struktur biaya internal maupun biaya aplikasi konsumen.

​“Tidak akan ada satu model tunggal yang menguasai dunia. Anda bisa melihatnya sendiri saat ini. Bukan hanya Anthropic atau OpenAI saja. Semakin banyak perusahaan yang juga menaruh minat besar pada model-model terbuka (open models),” ujarnya.

Kendati telah menaikkan anggaran belanja modal secara agresif, Jassy memperkirakan kapasitas infrastruktur Amazon masih belum sepenuhnya mencukupi untuk menampung seluruh permintaan pasar pada 2026. Dinamika keterbatasan pasokan ini diprediksi akan terus berlanjut hingga tahun depan.

Baca Juga