Dunia teknologi baru saja dihebohkan oleh langkah agresif Bos Meta Mark Zuckerberg. Raksasa media sosial Meta (induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp) resmi mencaplok Manus, sebuah startup Artificial Intelligence (AI) menjanjikan yang berbasis di Singapura.
Namun, belum sempat merayakan “pernikahan” bisnis tersebut, pemerintah China tiba-tiba muncul dan melancarkan investigasi ketat.
Mengapa Beijing ikut campur padahal Manus beroperasi di Singapura? Mari kita bedah drama geopolitik teknologi terbaru ini.
Mengenal Manus, “Si Anak Ajaib” dari Singapura
Bagi orang awam, nama Manus mungkin belum sepopuler ChatGPT. Namun di kalangan pengembang dan raksasa Silicon Valley, Manus adalah fenomena baru.
Manus dikenal sebagai pengembang AI Agent. Berbeda dengan AI konvensional yang hanya bisa menjawab pertanyaan (reaktif), AI Agent milik Manus bersifat proaktif.
Manus mampu melakukan tugas nyata secara mandiri seperti membangun situs web hingga menyelesaikan tugas coding kompleks hanya dengan satu perintah sederhana.
Prestasi finansialnya pun luar biasa. Diluncurkan pada Maret 2025, pada Desember di tahun yang sama Manus telah menembus pendapatan tahunan (Annual Recurring Revenue) sebesar 100 juta dolar AS.
Mengutip laporan The New York Times, tak heran jika Meta langsung jatuh hati dan mengakuisisinya demi memperkuat barisan peneliti AI mereka.
Apa yang Membuat Manus Berbeda?
Manus tidak sekadar “berbicara”, ia “bekerja”. Berikut adalah keunggulan teknis yang membuatnya menjadi rebutan:
Arsitektur Multi-Agent:
Di balik satu antarmuka, terdapat “tim” sub-agen yang berbagi tugas; mulai dari perencana (planning), riset, hingga eksekutor kode.
Manus Computer:
Fitur unik berupa panel transparan yang memperlihatkan AI sedang mengoperasikan “komputer” virtualnya membuka browser, mengetik, hingga mengunduh file persis seperti cara manusia bekerja.
Asynchronous Processing:
Manus bekerja di cloud. Anda bisa memberikan tugas besar, mematikan laptop, dan ia akan tetap bekerja di latar belakang hingga memberikan notifikasi saat tugas selesai.
Hybrid Foundation Model:
Manus bertindak sebagai orchestrator yang menggabungkan kekuatan model besar seperti Claude 3.5 Sonnet (Anthropic) dan Qwen (Alibaba) untuk mencapai penalaran logis tingkat tinggi.
Mengapa China Meradang?
Investigasi yang diluncurkan oleh Kementerian Perdagangan China (MOFCOM) berfokus pada potensi pelanggaran aturan ekspor teknologi. Meskipun bermarkas di Singapura, Manus memiliki “darah” China yang kental.
Manus didirikan oleh insinyur berbakat asal China dan awalnya memiliki perusahaan induk di Tiongkok. Karena Manus menggunakan kekayaan intelektual (IP) talenta China dan memanfaatkan model AI lokal seperti Qwen, Beijing menganggap teknologi ini sebagai aset nasional yang tidak boleh berpindah tangan ke perusahaan AS tanpa izin resmi.
Kasus ini mengingatkan publik pada drama TikTok dan ByteDance. Beijing bersikeras memiliki hak suara terakhir atas penjualan teknologi yang lahir dari inovasi talenta mereka, terutama untuk kategori AI interaktif yang sensitif.
Momentum “Gas Pol” Mark Zuckerberg
Akuisisi Manus ini sebenarnya adalah bagian dari strategi ekspansi besar-besaran Meta. Setelah bertahun-tahun dihantui tuntutan antimonopoli di AS, Meta akhirnya mendapat angin segar.
Pada November 2025, pengadilan federal AS menyatakan akuisisi masa lalu Meta (Instagram dan WhatsApp) tidak melanggar hukum persaingan usaha. Keputusan ini seolah membuka pintu bendungan.
Meta langsung tancap gas dengan melakukan rentetan investasi:
- Scale AI: Investasi senilai 14,3 miliar dolar AS.
- Limitless: Akuisisi startup AI pencatat otomatis.
- Manus: Langkah terbaru untuk mendominasi pasar AI Agent.
Persimpangan Jalan Talenta AI
Kasus Manus mempertegas tren menarik. Silicon Valley semakin bergantung pada talenta AI asal China di tengah tensi politik yang memanas.
Bagi pengusaha teknologi muda asal China, mereka kini berada di persimpangan jalan. Pilihannya hanya dua yaitu fokus menggarap pasar domestik atau “cabut” ke luar negeri untuk mengejar pasar global. Risikonya harus menghadapi pemeriksaan ketat dari dua raksasa, Washington dan Beijing.
Apa Selanjutnya?
Investigasi China terhadap kesepakatan Meta-Manus ini bisa menjadi preseden baru. Jika Beijing berhasil mempersulit kesepakatan ini, maka jalur akuisisi teknologi lintas negara akan semakin berliku.
Bagi Meta, ini adalah ujian apakah kekuatan finansial mereka mampu menembus tembok regulasi global. Bagi kita sebagai pengguna, ini adalah tanda nyata bahwa “perang AI” bukan lagi sekadar soal siapa yang paling pintar, melainkan siapa yang memegang kendali atas “otak” digital masa depan.


