Bangun Fondasi AI-First, Unilever Gandeng Google Cloud Adopsi Agentic AI

Ilustrasi Unilever

​Raksasa barang konsumsi (FMCG) global, Unilever baru saja mempertegas posisinya dalam perlombaan teknologi dunia. Pemilik merek Dove dan Hellmann’s ini resmi mengumumkan kemitraan strategis berdurasi lima tahun dengan Google Cloud.

Langkah itu bukan sekadar migrasi data biasa, melainkan upaya fundamental untuk membangun fondasi perusahaan yang berbasis “AI-first”.

​Melalui kerja sama ini, Unilever akan mengintegrasikan seluruh aplikasi perusahaan dan platform datanya ke dalam ekosistem Google Cloud.

Fokus utamanya?, Unilever akan memanfaatkan Vertex AI, platform AI Google untuk mentransformasi operasional, pemasaran, hingga cara konsumen berinteraksi dengan produk mereka.

​Lebih dari Sekadar Otomatisasi

​Salah satu poin paling menarik dari kesepakatan itu adalah fokus Unilever pada agentic AI atau AI berbasis agen.

Berbeda dengan AI biasa yang hanya menjawab pertanyaan, agentic AI memiliki kemampuan untuk menalar, belajar, dan bertindak secara mandiri untuk menyelesaikan tugas yang kompleks.

​Willem Uijen (Chief Supply Chain and Operations Officer Unilever) mengatakan strategi ini akan membantu perusahaan tetap gesit dan siap menghadapi masa depan.

“Kemitraan ini membekali kami untuk membuka nilai (ekonomi) di setiap level perusahaan,” ujarnya dalam rilis resmi seperti dikutip CIO Dive.

​Hal senada diungkapkan oleh Tara Brady, President Google Cloud EMEA. Ia menekankan bahwa kerja sama ini melampaui sekadar modernisasi sistem lama.

“Kami menerapkan model canggih seperti Gemini untuk menciptakan sistem kecerdasan yang mampu menalar, belajar, dan bertindak,” kata Brady.

Strategi “AI First”

​Transformasi digital di Unilever sebenarnya bukan barang baru. Sepanjang tahun 2024, perusahaan telah menerapkan strategi bertajuk “go wide and go deep“. Tak main-main, mereka telah melatih lebih dari 23.000 karyawan tentang alat AI generatif dan meluncurkan lebih dari 500 proyek AI di seluruh dunia.

​Beberapa keberhasilan yang telah dicapai antara lain:

  1. ​Pemanfaatan AI untuk meningkatkan keterlibatan (engagement) di media sosial.
  2. ​Penerapan pemasaran berbasis AI yang lebih personal.
  3. ​Pengurangan limbah secara signifikan di fasilitas manufaktur mereka di Hefei, Tiongkok.

​Kini, dengan dukungan Google Cloud, Unilever ingin melangkah lebih jauh ke ranah ritel. Unilever berencana bekerja sama dengan peritel untuk menciptakan model belanja berbasis agen, di mana konsumen dapat menemukan dan membeli produk dengan cara yang jauh lebih cerdas dan terarah.

​Menyiapkan Organisasi untuk Era AI

​CEO Unilever, Fernando Fernandez menegaskan strategi perusahaan saat ini adalah menciptakan model masa depan yang sesuai dengan cara konsumen menemukan dan berbelanja merek-merek mereka.

​”Kami sedang menyiapkan organisasi agar fit untuk era AI, mentransformasi setiap mata rantai dalam rantai nilai (value chain), terutama yang berkaitan dengan konsumen,” tegas Fernandez dalam paparan kinerja kuartal keempat tahun 2025 pekan lalu.

​Dengan integrasi model bahasa besar (LLM) dan kekuatan infrastruktur awan Google, Unilever tampaknya tidak hanya ingin menjual sabun atau saus mayones, tetapi ingin menjadi pionir dalam mendefinisikan ulang pengalaman belanja modern di pasar global.

​Menarik untuk disimak bagaimana implementasi agentic AI Unilever ini akan mengubah isi keranjang belanja kita di masa depan.

 

Baca Juga

Mengapa CIO Harus Menjadikan ‘Governance’ Fondasi Arsitektur AI?

Model tata kelola AI tradisional kini telah kehilangan relevansinya. Model lama yang hanya mengandalkan audit berkala dan kebijakan statis dianggap tidak lagi memadai. Pendekatan itu dinilai tidak mampu mengimbangi arsitektur AI modern yang bersifat nondeterministik, seperti Retrieval-Augmented Generation (RAG) dan sistem agen otonom.