Badai PHK dan Efisiensi, Runtuhnya Kepercayaan Diri Pekerja Teknologi

Ilustrasi AI menggantikan pekerjaan manusia

​Sektor teknologi yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai industri paling stabil dan prestisius, kini tengah menghadapi krisis mentalitas yang serius.

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang tak kunjung usai, ditambah kebijakan pemangkasan biaya operasional, mulai mengikis rasa aman para pekerja di dalamnya.

​Laporan terbaru Glassdoor mengungkapkan fakta pahit bahwa sentimen positif di kalangan pekerja teknologi mengalami penurunan tahunan terdalam dibandingkan industri lainnya.

Indeks kepercayaan itu mengukur persentase karyawan baik purna waktu maupun paruh waktu yang memiliki pandangan bisnis positif terhadap perusahaan mereka dalam enam bulan ke depan.

​Kepercayaan Diri yang Merosot Tajam

​Data Glassdoor menunjukkan bahwa kepercayaan pekerja di sektor teknologi anjlok lebih dari tujuh poin persentase dibandingkan tahun lalu.

Angka itu merupakan penurunan terbesar di antara seluruh industri yang dipantau dalam laporan tersebut. Dampaknya pun nyata, kini kurang dari separuh pekerja teknologi yang mampu memberikan gambaran positif mengenai masa depan bisnis perusahaan tempat mereka bernaung.

​Chief Economist Glassdoor Daniel Zhao menjelaskan bahwa fenomena itu berakar pada realitas pasar kerja yang sedang lesu.

​”Para pekerja teknologi dapat melihat betapa lemahnya pasar kerja saat ini,” ujar Zhao dalam keterangannya kepada CIO Dive.

“Mereka sadar bahwa posisi tawar (leverage) mereka saat ini berkurang. Hal ini berimbas pada bagaimana perasaan mereka terhadap pekerjaan mereka sekarang,” katanya.

​Tekanan Multi-Dimensi, Dari PHK hingga AI

​Para profesional TI saat ini harus menghadapi daftar panjang disrupsi ketenagakerjaan. Berdasarkan data dari Challenger, Gray & Christmas, perusahaan teknologi telah mengumumkan lebih dari 33.000 PHK sepanjang tahun 2026, sebuah lonjakan drastis sebesar 51 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

​Beberapa faktor kunci yang menyebabkan lesunya perekrutan di sektor ini meliputi:

  1. ​Kekhawatiran regulasi global dan kebijakan tarif.
  2. ​Ketidakpastian ekonomi makro yang lebih luas.
  3. ​Dampak adopsi kecerdasan buatan (AI) terhadap strategi perekrutan.

​Meskipun lembaga seperti CompTIA sempat menunjukkan beberapa indikator positif bulan lalu, angka pengangguran di sektor TI justru merangkak naik ke level 3,8 persen di tengah tekanan ekonomi nasional.

Tantangan bagi Pemimpin Teknologi (CIO)

​Bagi para Chief Information Officer (CIO), menjaga keterlibatan (engagement) karyawan di departemen TI kini menjadi tugas yang sangat krusial.

Zhao memperingatkan adanya risiko karyawan yang tidak merasa terikat tetapi juga tidak akan mengundurkan diri secara sukarela.

Di sisi lain, karyawan yang berdedikasi tinggi justru merasa frustrasi karena minimnya peluang untuk naik jabatan.

​”Ini adalah saat yang krusial bagi para pemimpin untuk meyakinkan pekerja bahwa perusahaan berinvestasi dalam karier dan masa depan mereka,” tegas Zhao.

​Ia juga menambahkan bahwa keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan pengembangan staf.

​”Meskipun tidak ada anggaran untuk promosi atau kenaikan gaji, menjadi tanggung jawab para pemimpin untuk mencari cara memberikan peluang pertumbuhan bagi pekerja. Para CIO bisa membantu para karyawan mengembangkan keterampilan baru atau mendapatkan pengalaman baru,” ujarnya.

​Dilema Pengembangan Skill AI

​Laporan Glassdoor menemukan bahwa pertumbuhan karier tetap menjadi pendorong utama kepuasan karyawan.

Namun, dalam konteks AI, tantangannya menjadi lebih kompleks. Data dari LinkedIn menunjukkan adanya ketimpangan antara ambisi perusahaan dan fasilitas yang diberikan.

​Dua pertiga eksekutif berharap karyawannya segera menguasai AI dalam beberapa bulan ke depan. Namun, faktanya kurang dari separuh profesional di AS yang merasa didukung atau difasilitasi dalam proses belajar tersebut.

​Di sisi lain, kondisi pasar kerja yang sedang “dingin” ini sebenarnya membuka celah bagi perusahaan skala kecil.

Dengan banyaknya talenta berkualitas tinggi yang tersedia di pasar terbuka, perusahaan menengah-kecil memiliki kesempatan langka untuk merekrut ahli teknologi yang biasanya sulit didapatkan karena kalah bersaing dengan raksasa teknologi.

​”Pasar kerja yang melunak juga berarti tersedia banyak talenta berkualitas tinggi di pasar terbuka,” kata Zhao.

“Ini sangat berguna bagi perusahaan kecil yang biasanya mungkin tidak mampu bersaing memperebutkan talenta papan atas,” ujarnya.

​Ujian Loyalitas di Balik Layar

​Gelombang PHK dan efisiensi yang melanda sektor teknologi bukan sekadar persoalan angka di atas kertas, melainkan ujian bagi loyalitas dan kepercayaan pekerja.

Di tengah ambisi perusahaan untuk mengadopsi AI secara besar-besaran, terdapat jurang dukungan yang nyata bagi karyawan yang merasa terancam sekaligus terbebani oleh ekspektasi baru.

​Kini, bola panas ada di tangan para pemimpin perusahaan. Keberhasilan transformasi digital tidak lagi hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang diadopsi.

Namun hal itu ditentukan oleh sejauh mana mereka mampu meyakinkan talenta terbaiknya bahwa masih ada ruang untuk tumbuh di tengah badai ketidakpastian ekonomi.

Tanpa investasi nyata pada pengembangan manusia, visi besar perusahaan teknologi di tahun 2026 terancam kehilangan motor penggerak utamanya yaitu kepercayaan dari orang-orang di balik layar.

Baca Juga