Selama hampir 15 jam dunia digital seperti berhenti berputar. Ratusan situs dan aplikasi besar lumpuh bersamaan, mulai dari Canva, Roblox, Zoom, hingga Alexa. Penyebabnya adalah kegagalan sistem di Amazon Web Services (AWS) yang selama ini menjadi tulang punggung infrastruktur internet modern.
Gangguan yang bermula di wilayah US-East-1 (Virginia Utara, AS) pada Senin pagi waktu setempat itu menjadi salah satu insiden terparah dalam sejarah AWS sejak 2021.
Seluruh layanan cloud raksasa milik Amazon itu mulai dari penyimpanan data, daya komputasi, hingga basis data dan DNS terganggu berjam-jam, melumpuhkan sistem global yang bergantung padanya.
Pada Selasa malam waktu AS, AWS akhirnya menyatakan semua layanannya telah pulih sepenuhnya. Namun, kerusakan reputasi dan pelajaran yang ditinggalkan peristiwa ini jauh lebih dalam dari sekadar “server down”.
Kronologi AWS Down
Gangguan pertama dilaporkan sekitar pukul 03.11 pagi waktu bagian timur AS (Senin, 20 Oktober 2025). Situs pemantau Downdetector langsung mencatat lonjakan laporan error dari berbagai aplikasi besar Roblox, Snapchat, Zoom, Canva, hingga Amazon sendiri.
Menurut laporan CNBC International, sumber masalah berasal dari malfungsi sistem DNS dan layanan basis data DynamoDB di pusat data AWS wilayah US-East-1. Server itu menampung beban pelanggan terbesar di dunia.
DNS (Domain Name System) adalah sistem yang menerjemahkan nama situs menjadi alamat IP. Ketika DNS bermasalah, seluruh ekosistem digital yang bergantung padanya ikut terhenti.
Dalam pembaruan resmi di laman statusnya, AWS sedang menyelidiki tingkat kesalahan dan latensi di berbagai layanan. Upaya pemulihan pertama dilakukan pada pukul 05.00 pagi tetapi gangguan justru meluas.
Sejumlah subsistem ikut terdampak, termasuk layanan API (Application Programming Interface) yang digunakan aplikasi lain untuk berkomunikasi antarserver. Gangguan terus berlanjut hingga siang hari. Baru pada pukul 18.00 waktu setempat, AWS mengumumkan semua layanan telah kembali normal.
Namun, efek domino sudah terlanjur menyebar ke seluruh dunia.
Kerugian dan Dampak Ekonomi
Efek gangguan AWS terasa hampir di semua lini kehidupan digital modern. Beberapa layanan besar yang sempat tumbang antara lain:
1. Zoom Communications, Snowflake, dan Salesforce, yang digunakan jutaan profesional di seluruh dunia.
2. Roblox dan Epic Games, yang membuat jutaan gamer kehilangan akses.
3. Perplexity AI, Canva, Airtable, McDonald’s App, hingga Apple Music dan Apple TV.
4. Bahkan layanan internal Amazon seperti asisten pintar Alexa dan sistem keamanan rumah Ring ikut mati total.
Di Inggris, situs pemerintah Gov.uk dan HM Revenue & Customs (HMRC) juga dilaporkan tidak dapat diakses beberapa jam. Di Indonesia, pengguna melaporkan gangguan pada Zoom, Canva, dan Roblox melalui Downdetector pada Senin sore waktu setempat.
Gangguan selama 15 jam ini tidak hanya melumpuhkan aktivitas digital, tapi juga menggerus potensi pendapatan global hingga puluhan juta dolar per jam.
Menurut estimasi Tom’s Guide, kerugian untuk AWS sendiri bisa mencapai USD70 juta per jam, belum termasuk kerugian klien korporat yang kehilangan transaksi, data real-time, dan reputasi layanan.
Bisnis makanan cepat saji seperti McDonald’s melaporkan sistem pemesanan digital terganggu. Sementara Zoom dan Slack mengalami lonjakan keluhan dari pengguna korporat yang tidak bisa mengakses rapat daring atau sistem kerja jarak jauh. Gangguan ini bahkan sempat memicu volatilitas kecil di saham-saham teknologi AS, dengan penurunan minor pada indeks Nasdaq pada sesi awal perdagangan Senin.
Pelajaran dari Awan yang Runtuh
Insiden itu mengingatkan dunia bahwa internet bukan jaringan tak terbatas yang bebas risiko. Apalagi, infrastruktur internet saat ini bergantung pada segelintir perusahaan yaitu Amazon, Microsoft, dan Google.
Dalam skala global, AWS menguasai sekitar 31 persen pangsa pasar cloud dunia, jauh di atas Microsoft Azure (25 persen) dan Google Cloud (11 persen). Artinya, ketika AWS mengalami gangguan, sepertiga aktivitas digital dunia ikut terguncang.
“Gangguan AWS adalah pengingat keras bahwa dunia telah terlalu sentralistik. Kita membutuhkan arsitektur internet yang lebih terdistribusi dan tahan banting,” tulis Wired dalam editorialnya. “Internet hari ini tidak lagi sepenuhnya ‘terdesentralisasi’ seperti yang dulu kita impikan. Ketika satu penyedia cloud raksasa jatuh, seluruh dunia ikut terseret ke dalam kegelapan digital,” tulis The Verge.
Dengan kejadian ini, perusahaan memang harus mulai memikirkan strategi multi-cloud dan multi-region. Setidaknya ketika beban terbagi ke beberapa penyedia, gangguan serupa tidak menghentikan operasional bisnis.


