Bayangkan ketika Anda membuka aplikasi merek yang Anda sukai dan mengetik, “Apa yang harus saya pakai ke pesta di akhir pekan?”. Kemudian, dalam hitungan detik muncul tiga setelan lengkap, siap dibeli dengan gaya merek dan ukuran yang tersedia.
Itulah realitas baru yang dihadirkan oleh Ralph Lauren lewat agentic AI Ask Ralph. Langkah ini menegaskan bahwa dunia mode bukan hanya soal selera dan estetika, tetapi juga tentang algoritma dan kecerdasan buatan (AI).
Penerapan AI di Dunia Fesyen
Saat ini, dunia ritel fesyen menghadapi tantangan serius. Di satu sisi, konsumen menuntut pengalaman yang personal. Di sisi lain, waktu siklus desain makin pendek yang membuat kesalahan inventori akan mengakibatkan biaya tinggi. Di tengah tantangan seperti itu, AI bukan lagi sekadar alat bantu tetapi pendorong transformasi.
Ralph Lauren mengungkapkan, AI, data, dan analitik adalah pilar utama bisnisnya pada tahun ini. Perusahaan fesyen itu menyiapkan belanja modal (capex) sebanyak 5 persen dari pendapatan tahun fiskal 2026 untuk mendukung sarana teknologi.
“Kami memulai perjalanan AI hampir satu dekade lalu. Sekarang kami memasuki era agentic AI,” ujar Iris Langlois-Meurinne (CMO Global Ralph Lauren) seperti dikutip CIO Dive. “Kami unggul karena kami punya teknologi yang lincah, data yang kaya, dan ilmuwan data yang bisa menggabungkan AI dengan gaya,” ujarnya.
Apa Itu Ask Ralph dan Bagaimana Cara Kerjanya?
Ask Ralph adalah asisten belanja berbasis dialog yang memahami pertanyaan dan kebutuhan pengguna. Contohnya seperti di atas, ketika Ask Ralph bisa memberikan rekomendasi pakaian pesta berdasarkan inventori yang dimiliki Ralph Lauren.
Untuk membangun Ask Ralph ini, Ralph Lauren menggandeng Microsoft Azure OpenAI. Secara prinsip, sistem Ask Ralph ini memadukan data produk, konten kreatif merek, arsip gaya, dan inventori waktu untuk merekomendasikan secara personal. Dengan begitu, Ask Ralph bisa memahami memahami konteks, menetapkan rekomendasi, bahkan melakukan transaksi dengan menambahkan item ke keranjang.
Dengan penerapan agentic AI ini, Ralph Lauren menargetkan beberapa manfaat:
- Pengalaman pelanggan yang lebih personal dan inspiratif. Pengguna merasa mendapat saran gaya dari stylist tanpa harus ke toko fisik.
- Efisiensi operasional. Tim desain dan kreatif bisa lebih cepat berinovasi karena AI bisa mendesain konsep alas kaki dan mengurangi waktu kerja hingga 40 jam.
- Percepatan siklus keputusan inventori. Sistem agentic AI itu bisa mengintegrasi data produk, kampanye, dan sinkronisasi dengan inventori live.
- Penguatan merek. Ralph Lauren menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar merek pakaian, tapi juga merek teknologi gaya hidup.
Langkah Ralph Lauren itu menjadi contoh bagaimana industri ritel fesyen kini masuk ke era AI. “Kami bukan hanya memakai AI untuk efisiensi, tapi untuk memahami pelanggan kami dengan lebih dalam,” ujar David Lauren (Chief Branding & Innovation Officer Ralph Lauren).
Ralph Lauren akan memperluas Ask Ralph ke lini produk lain dan ke pasar global. Teknologi seperti voice prompt, image-based search, dan memorisasi preferensi pengguna akan dikembangkan.
Ralph Lauren menunjukkan bahwa dunia mode sekarang adalah soal gaya, data, dan kecerdasan buatan yang berpadu. Agentic AI bukan hanya alat teknis, tetapi langkah strategis yang menandai era baru rite lebih personal dan berorientasi pengalaman.


