Di era kecepatan adopsi teknologi menjadi penentu daya saing, para pemimpin TI (CIO) dituntut untuk tidak hanya mengejar produktivitas, tetapi juga memitigasi risiko.
Kuncinya terletak pada satu fondasi utama yaitu visi AI yang kohesif. Namun, kenyataannya, banyak perusahaan terjebak dalam arus inovasi tanpa arah yang jelas.
Banyak pakar sepakat bahwa menyusun pernyataan visi atau panduan AI adalah langkah awal krusial dalam strategi adopsi perusahaan.
Pernyataan itu membantu organisasi menyelaraskan tujuan AI dengan target bisnis, memprioritaskan investasi, membangun pemahaman bersama tentang urgensi dan metode penggunaan AI.
Meski terdengar logis, fakta di lapangan menunjukkan kesenjangan yang lebar. Meski hampir 90 persen perusahaan berencana meningkatkan investasi AI dalam tiga tahun ke depan, survei Gartner pada akhir 2023 mengungkapkan hanya 9 persen organisasi yang memiliki pernyataan visi AI dasar.
Tren itu tidak banyak berubah, dengan data riset HFS dan Altimetrik tahun 2026 menunjukkan hanya 14 persen dari organisasi Global 2000 yang memiliki strategi AI terdokumentasi dengan tujuan yang jelas.
Bahaya Tanpa Visi yang Terarah
Tanpa visi, organisasi berisiko membuang sumber daya untuk proyek yang salah atau mengabaikan inisiatif yang bernilai tinggi. Ron Guerrier, (CTO Save the Children) menekankan bahwa visi AI bukan sekadar syarat kesuksesan, melainkan pelindung perusahaan dari liabilitas atau kewajiban hukum di masa depan.
“Kita hidup dalam masyarakat yang sangat kompetitif, di mana nilai pemegang saham masih mendominasi apa yang kita pikirkan dan lakukan,” ujarnya.
“Bayangkan suatu saat Anda duduk dalam proses deposisi (pemeriksaan hukum) dan seseorang bertanya seberapa yakin Anda menggunakan AI untuk membuat keputusan akhir. Jika Anda merasa bisa melewati audit atau definisi regulasi dalam dua atau tiga tahun ke depan, maka itulah barometer yang bisa kita gunakan untuk mempertanyakan diri sendiri. Apalagi, teknologi jauh berkembang sangat cepat sehingga dunia hukum belum mengejarnya,” ujarnya.
Menjaga Langkah di Tengah Perlombaan AI
Tidak ada formula tunggal untuk membangun visi AI karena dinamika internal setiap perusahaan berbeda. Satya Jayadev, Mantan CIO dan Kepala Transformasi AI di Skyworks Solutions yang kini menjabat sebagai CIO di pengembang penyimpanan data Sandisk, menyebut kondisi saat ini sebagai titik balik yang besar.
“Kita berada di titik balik yang sangat besar. Kita melihat AI membantu dengan bottom line (laba bersih) dan top line (pendapatan kotor). Jadi, ada banyak tarikan dan dorongan yang terjadi di dalam bisnis,” ujarnya.
Jayadev menyarankan pendekatan tiga tahap untuk membangun strategi adopsi AI:
- Produktivitas: Fokus pada penggunaan teknologi saat ini untuk mengurangi waktu, memangkas biaya, dan meningkatkan efisiensi. Di Skyworks, ini mencakup penggunaan Microsoft Copilot, alat bantu berbasis AI untuk tugas kognitif dalam menyederhanakan tugas rutin seperti membuat atau merangkum surel, laporan, dan membantu penulisan kode.
- Diferensiasi: Menggunakan teknologi untuk melakukan sesuatu secara berbeda dari kompetitor, guna meraih pangsa pasar lebih besar atau mempercepat strategi masuk ke pasar (go-to-market).
- Disrupsi: Tahap yang masih dalam fase awal, di mana teknologi digunakan untuk menciptakan cara baru yang radikal dalam desain teknik dan manufaktur.
“Bagaimana kita bisa menggunakannya untuk menciptakan cara baru dalam melakukan sesuatu, alih-alih sekadar cara yang berbeda dalam melakukannya,” ujar Jayadev.
Transformasi Peran Pemimpin TI
Sebagai pemimpin TI, beban mengembangkan visi dan menavigasi disrupsi ini jatuh ke pundak CIO (Chief Information Officer). Peran ini kini menuntut kepemimpinan berpikir (thought leadership) dan pembangunan kemitraan kolaboratif.
AI harus dipandang sebagai pengganda kekuatan (force multiplier), bukan sekadar alat efisiensi biaya. Dampak lanjutannya bagi organisasi adalah potensi restrukturisasi struktur hierarki bisnis dan kepemimpinan teknologi.
“CIO akan membenci saya karena mengatakan ini, tetapi apa yang perlu mereka lakukan sekarang adalah bertransformasi,” tegas Guerrier.
Menurutnya, transformasi ini membutuhkan perubahan pola pikir untuk lebih fokus pada data, dibandingkan sekadar aktivitas operasional TI atau modernisasi sistem warisan (legacy systems), sistem atau aplikasi lama yang masih digunakan tetapi sudah usang.


