AI Memaksa Kita Menata Ulang Cara Bekerja, Belajar, dan Memimpin

Ilustrasi adopsi artificial intelligence (AI) di tempat kerja

Di tengah gegap gempita seputar kecerdasan buatan (AI), banyak perusahaan ternyata masih tersandung di langkah dasar. Kristin Supancich (Chief People Officer Ahead) mengungkapkan, kesalahan terbesar dalam implementasi AI bukan karena terlambat berinovasi. Akan tetapi, karena salah memahami makna AI bagi strategi bisnis, budaya kerja, dan manusia.

“Banyak yang menganggap AI itu proyek sekali jalan, sehingga banyak checklist yang harus dicentang,” kata Supancich dalam wawancara dengan People Matters. “Padahal, AI adalah kekuatan transformasi yang menuntut integrasi mendalam, pembelajaran berkelanjutan, dan dukungan nyata dari para pemimpin,” ucapnya.

Dengan kata lain, keberhasilan adopsi AI bukan soal seberapa cepat perusahaan menggunakan ChatGPT, melainkan seberapa dalam perusahaan memahami dampaknya terhadap cara bekerja dan berpikir.

Dunia Kerja yang Dirombak Ulang

Supancich menilai, dampak AI terhadap dunia kerja bahkan lebih besar dibanding revolusi kerja jarak jauh pascapandemi. Jika pandemi mengubah lokasi bekerja, maka AI sedang mengubah makna bekerja itu sendiri.

“Dunia kerja sedang berubah secara dramatis,” ujarnya.

Tantangan terbesar bukan hanya soal mempelajari alat baru, tetapi membantu karyawan beradaptasi dengan perubahan peran. Termasuk, bagaimana memanfaatkan waktu ketika sebagian tugas telah diambil alih mesin. “Selama ini orang terbiasa dengan tekanan untuk terus produktif. Ketika AI mengambil sebagian beban itu, banyak yang justru bingung: apa yang harus saya lakukan sekarang?” ujarnya.

Supancich melihat masa depan di mana pekerjaan tak lagi diisi oleh jabatan kaku tetapi oleh keterampilan (skill set). Dengan pendekatan itu, individu bisa fokus pada hal yang mereka kuasai sehingga organisasi menjadi lebih lincah dan kolaboratif.

Di Ahead, tim HR sedang bereksperimen dengan model baru yang memadukan psikologi organisasi dan perencanaan tenaga kerja modern. “Kami ingin membangun struktur kerja yang adaptif dan memberi ruang bagi karyawan untuk tumbuh seiring perubahan,” jelasnya.

Ketakutan yang Nyata, Tapi Penuh Peluang

Supancich tak menampik bahwa ketakutan terhadap AI benar-benar ada. Beberapa pekerjaan akan hilang dan mereka yang tak mau beradaptasi bisa tertinggal. Namun, justru di balik itu tersimpan peluang besar. “Kalau ingin tetap relevan, peluklah AI sepenuhnya. Pahami apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan teknologi,” ujarnya.

Ia berpesan, “Jangan tunggu disuruh, mulailah belajar hal baru sekarang juga. Rasa ingin tahu dan semangat belajar tentang teknologi akan menjadi nilai jual utama”. Ia juga mengingatkan pentingnya kepemimpinan yang empatik. “Pemimpin yang mengabaikan sisi emosional ini akan kesulitan membawa timnya maju,” tegasnya.

Supancich juga menyoroti perang talenta global di bidang AI. Salah satu medan utamanya ada di India, negara yang menurutnya punya potensi luar biasa. “Perebutan talenta di industri teknologi sangat sengit. Tantangannya bukan hanya merekrut, tapi juga mempertahankan dan mengembangkan mereka,” katanya.

Ahead kini memperkuat kemitraan dengan universitas, ikut merancang kurikulum, dan berkomitmen merekrut langsung dari program tertentu. Kolaborasi industri dan akademik adalah kunci untuk menjembatani kesenjangan antara teori dan kebutuhan bisnis nyata. “Kami ingin Ahead bukan sekadar tempat kerja, tapi tempat tumbuh,” tegasnya.

AI Bukan Tujuan, Tapi Perjalanan

Meski hype AI tengah meluap, Supancich menilai kebanyakan perusahaan masih dalam tahap awal. “Banyak yang tahu mereka harus melakukan sesuatu dengan AI, tapi tidak tahu harus mulai dari mana,” ujarnya seperti dikutip PeopleMatters.

Kuncinya, kata dia, bukan melakukan semua hal sekaligus tetapi fokus pada area yang paling berdampak. “Kami mewajibkan pelatihan AI untuk seluruh karyawan untuk membangun literasi digital dan menghapus stigma bahwa AI itu rumit,” ujarnya. Responsnya sangat positif. Banyak karyawan Ahead kini menemukan cara baru untuk mempercepat pekerjaan dan menambah nilai bagi perusahaan.

Pada akhirnya, masa depan kerja akan ditentukan oleh pemimpin yang mampu menggabungkan kecerdasan teknis dan empati manusiawi.

“Teknologi hanyalah alat. Keberhasilan sejati ada pada bagaimana organisasi menumbuhkan budaya belajar, keterbukaan, dan kolaborasi lintas batas,” tutupnya.aia

Baca Juga

Mengapa Enterprise Architecture Kembali Krusial di Era Agentic AI?

Di era agentic AI, enterprise architect tak lagi sekadar perancang blueprint teknologi. Perannya berevolusi menjadi semacam “tukang kebun perusahaan” yaitu memilih agen AI yang tepat, menanamnya di tempat yang sesuai, dan memangkas atau merawatnya sesuai kebutuhan bisnis.