AI dan Human Error, Kombinasi Mematikan di Balik Lonjakan Serangan Siber Mobile 2025

Ilustrasi serangan siber

Di era ketika hampir semua pekerjaan bergantung pada smartphone dan mobile apps, ancaman siber ikut berevolusi. Laporan Verizon 2025 mengungkap, AI dan kelalaian manusia menjadi kombinasi berbahaya pemicu lonjakan serangan siber mobile global di seluruh dunia.

Menurut laporan tersebut, 85 persen organisasi melaporkan peningkatan serangan berbasis perangkat mobile dalam setahun terakhir. Tak heran jika tiga dari empat perusahaan meningkatkan anggaran keamanan mobile mereka.

“Tahun ini kami melihat titik balik besar. Keamanan mobile bukan lagi soal melindungi jaringan, tapi soal melindungi setiap perangkat di tangan karyawan,” kata Chris Novak (VP Global Cybersecurity Solutions di Verizon Business) seperti dikutip AI Magazine.

“Dengan bangkitnya AI, kita sedang menghadapi badai di dunia keamanan mobile di mana AI adalah anginnya, dan human error adalah jendela yang terbuka,” tambahnya.

AI Generatif, Pedang Bermata Dua

AI generatif mempercepat produktivitas, tapi juga memperluas serangan siber. Verizon menemukan 93 persen karyawan kini menggunakan alat AI generatif di perangkat mobile mereka. Namun, sebanyak 64 persen pimpinan bisnis menilai kebocoran data dari aplikasi AI sebagai ancaman terbesar.

Ironisnya, peretas kini memanfaatkan AI untuk memperkuat taktiknya dari membuat phishing yang lebih meyakinkan hingga melancarkan serangan otomatis ke ribuan akun.

Meski begitu, hanya 17 persen perusahaan yang sudah memiliki kontrol keamanan khusus untuk menghadapi ancaman berbasis AI.

Human Error, Pintu Masuk Favorit Hacker

Teknologi secanggih apa pun tidak akan membantu jika manusia di baliknya masih ceroboh. Verizon mencatat 80 persen perusahaan telah melakukan simulasi smishing (SMS phishing), dan hampir setengah karyawan tetap mengklik tautan berbahaya.

“Adopsi Gen AI yang cepat adalah game changer. Perusahaan harus memperbarui strategi keamanan untuk menghadapi ancaman berbasis AI dan mengedukasi karyawan agar menggunakannya secara aman,” ujar Novak.

Laporan itu juga mengungkap jurang keamanan antara korporasi besar dan usaha kecil-menengah (UKM). Sebanyak 57 persen UKM mengaku tidak punya sumber daya memadai untuk merespons serangan siber.

Hanya 39 persen UKM yang memberikan edukasi risiko AI kepada karyawan, jauh di bawah 66 persen korporasi besar yang rutin melakukan pelatihan dan menerapkan autentikasi berlapis (MFA).

Membangun Pertahanan Berlapis

Keamanan mobile kini bukan lagi pelengkap, tapi fondasi utama bisnis modern. Pendekatan proaktif yang melibatkan edukasi, kebijakan AI yang jelas, dan solusi keamanan adaptif harus menjadi standar baru perusahaan.

“Ancaman terus berevolusi, tapi begitu juga pertahanannya. Pendekatan keamanan berlapis bukan lagi praktik terbaik, tapi kebutuhan mutlak untuk bertahan,” tegas Novak.

Laporan Verizon ini menjadi pengingat keras bahawa AI mempercepat kemajuan dan risiko.
Sering kali, peretas tak perlu membobol sistem rumit, cukup menunggu satu klik ceroboh dari manusia.

Ketika AI menjadi mesin pendorong produktivitas, kesadaran keamanan manusia tetap menjadi rem pengendali yang menentukan apakah teknologi membawa manfaat atau bencana.

Baca Juga

Fintech Kuasai Agentic AI, Bank Terancam Tertinggal

Menurut laporan terbaru McKinsey & Co, fintech kini menjadi pemain paling agresif dalam mengadopsi teknologi AI khususnya agentic AI. Sedangkan, banyak bank tradisional masih terseret proses internal yang panjang dan keterbatasan teknologi lama.