Agentic AI: Evolusi Baru Setelah ChatGPT, Kini AI Bisa Bertindak Tanpa Disuruh

Irvan Bastian Arief (VP of Data Science and Machine Learning Engineering tiket.com) dalam podcast bersama CIO Insight Indonesia

Anda tentu sudah akrab dengan era Generative AI seperti ChatGPT yang mampu menghasilkan teks, gambar, hingga kode yang nyaris sama dengan karya manusia.

Di balik kecanggihannya, Generative AI sejatinya masih bersifat reaktif. Ia hanya akan merespons ketika diperintah. Anda bertanya, baru ia menjawab. Anda memerintah, baru ia mencipta.

Kini, dunia teknologi sedang memasuki babak baru yang jauh lebih revolusioner yaitu Agentic AI. Teknologi Agentic AI mampu bertindak secara otonom tanpa harus menunggu instruksi manusia di setiap langkah.

Dari Sekadar Menjawab Menjadi Bertindak

“Agentic AI berorientasi pada tujuan. Ia mampu merencanakan dan mengeksekusi langkah-langkah untuk mencapai target tanpa menunggu instruksi di setiap tahap,” kata Irvan Bastian Arief (VP of Data Science and Machine Learning Engineering tiket.com) dalam podcast bersama CIO Insight Indonesia.

Irvan memberikan contoh sederhana. Dulu, jika kita bertanya kepada asisten virtual seperti Siri, jawabannya sebatas, “Suhu di Jakarta hari ini 30 derajat.” Jawaban itu berhenti di informasi.

“Tapi, kenapa kita menanyakan suhu?. Karena kita mau keluar rumah,” kata Irvan.

Nah, di sinilah Agentic AI berbeda. Jika mendeteksi hujan, Agentic AI tak hanya memberi tahu, tapi langsung bertindak misalnya menyiapkan payung atau memesan taksi agar Anda tak kehujanan.

Kemampuannya tidak berhenti di level saran, tapi benar-benar mengorkestrasi tindakan nyata. Misalnya, cukup beri perintah, “Tolong booking salon besok sore!.” Maka agentic AI akan:

1. Mencari salon yang tersedia.

2. Mengecek jadwal Anda di kalender.

3. Melakukan pemesanan di waktu terbaik.

4. Mengirimkan konfirmasi ke ponsel Anda.

Inilah revolusi sejati. AI yang mampu berpikir dan mengeksekusi bukan sekadar menjawab.

Cara Agentic AI Berpikir

Bagaimana AI bisa memiliki inisiatif?. Kuncinya terletak pada Model Context Protocol (MCP), sebuah jembatan yang memungkinkan AI terhubung dengan berbagai aplikasi dan sistem eksternal, mulai dari platform taksi online hingga manajemen salon.

Dikembangkan oleh Anthropic, MCP adalah game changer karena membebaskan pengembang dari keharusan memprogram setiap langkah interaksi.

Jika dulu API harus diarahkan satu per satu, kini AI cukup diberi tujuan dan akan otomatis memilih konektor yang tepat untuk mencapainya.

“Ia bisa otomatis mencari konektor yang cocok agar pemesanan potong rambut bisa dilakukan sendiri,” ujar Irvan.

Selain MCP, Agentic AI bekerja dalam empat siklus otonom utama:

1. Persepsi (Perception): Mengumpulkan dan menganalisis data dari lingkungan.

2. Penalaran (Reasoning): Menetapkan tujuan dan menyusun rencana tindakan.

3. Tindakan (Action): Mengeksekusi rencana lewat konektor atau tools yang tersedia.

4. Pembelajaran (Learning): Mengevaluasi hasil tindakan dan menyesuaikan pendekatan ke depan.

Siklus itu membuat Agentic AI proaktif, adaptif, dan tidak lagi tergantung input manusia terus-menerus.

Transformasi Bisnis, Dari Layanan hingga Pemasaran

Di dunia bisnis, dampak Agentic AI sangat besar. Ia bukan hanya alat bantu, tapi tenaga kerja digital yang mampu bekerja mandiri 24 jam selama 7 hari. Berikut manfaatnya bagi transformasi bisnis:

1. Layanan Pelanggan Otonom

Agentic AI mengubah chatbot reaktif menjadi agen layanan penuh. Misalnya di tiket.com, AI bisa memahami konteks “tolong refund booking saya”, memverifikasi data, dan langsung memproses pengembalian dana hanya dengan konfirmasi “ya” dari pelanggan.

AI juga bisa membaca keluhan, mengambil data pelanggan, menawarkan solusi, dan menutup kasus secara otomatis bahkan di luar jam kerja.

2. Pemasaran Cerdas dan Real-Time

Marketer kini tak perlu membuat kampanye email secara manual. Agentic AI mampu menganalisis audiens, menulis pesan, menjadwalkan, mengukur performa, hingga melakukan A/B testing otomatis. Bahkan, agentic AI bisa menyesuaikan bujet iklan secara real-time sesuai performa kampanye.

3. Revolusi di HR

Dalam rekrutmen, Agentic AI dapat menyaring CV, menjadwalkan wawancara, mengirim offer letter, hingga mengatur onboarding.

Hasilnya, proses lebih cepat, bebas bias, dan efisien, sementara tim HR bisa fokus ke strategi pengembangan SDM.

Era Baru Produktivitas dan Kualitas Hidup

Dengan hadirnya Agentic AI, tugas-tugas administratif yang dulunya menghabiskan waktu kini bisa dikerjakan otomatis. Manusia akhirnya punya ruang untuk berpikir strategis, berinovasi, dan menikmati waktu bersama keluarga.

“Bayangkan, ke depan hidup manusia akan jauh lebih berkualitas. Kita bisa menggunakan waktu lebih banyak untuk orang-orang tersayang,” tutup Irvan.

Agentic AI adalah lompatan besar dari chatbot cerdas menjadi mitra digital otonom. Kesiapan perusahaan mengadopsinya akan menentukan seperti apa masa depan pekerjaan dan kualitas hidup di era AI yang sesungguhnya.

 

Baca Juga

Mengapa Enterprise Architecture Kembali Krusial di Era Agentic AI?

Di era agentic AI, enterprise architect tak lagi sekadar perancang blueprint teknologi. Perannya berevolusi menjadi semacam “tukang kebun perusahaan” yaitu memilih agen AI yang tepat, menanamnya di tempat yang sesuai, dan memangkas atau merawatnya sesuai kebutuhan bisnis.