Salesforce kembali menunjukkan keseriusan di pasar Artificial Intelligence (AI) dengan memperkenalkan Agentforce 360. Agentforce 360 adalah platform agen AI terbaru yang membantu perusahaan membangun, melatih, dan mengelola asisten cerdas secara lebih fleksibel dan manusiawi.
Agen AI yang Bisa Berpikir Sendiri
Salah satu senjata utama di Agentforce 360 adalah Agent Script, alat pemrograman terbaru yang memungkinkan developer mengatur perilaku agen AI menggunakan logika.
Dengan cara itu, agen AI dapat merespons situasi tak terduga dengan lebih alami; mirip cara manusia berpikir dan beradaptasi. Fitur ini akan hadir dalam versi beta pada November 2025.
Selain itu, Salesforce juga memperkenalkan “reasoning models”, model AI yang mampu berpikir sebelum menjawab. Teknologi itu ditenagai oleh tiga raksasa AI generatif dunia: Anthropic, OpenAI, dan Google Gemini. Integrasi ketiganya akan membuat Agentforce 360 lebih luwes dalam memahami konteks dan memberikan jawaban yang relevan.
Selain itu, Salesforce juga menghadirkan Agentforce Builder, sebuah dashboard terpusat untuk membangun, menguji, dan meluncurkan agen AI tanpa harus berpindah platform.
Kemudian, ada juga Agentforce Vibes yang memungkinkan perusahaan menanamkan gaya komunikasi ke dalam AI. Hal itu membuatnya terdengar seperti bagian dari tim, bukan mesin tanpa kepribadian.
Terintegrasi Penuh dengan Slack
Platform Agentforce 360 juga terintegrasi mendalam ke Slack, aplikasi pesan kerja yang berada di ekosistem Salesforce. Mulai bulan ini, aplikasi inti seperti Salesforce Sales, IT, dan HR akan langsung bisa diakses lewat Slack.
Artinya, pekerja bisa berinteraksi langsung dengan AI mulai dari menjadwalkan pertemuan, menganalisis data penjualan, hingga menulis laporan tanpa meninggalkan ruang obrolan.
Slack juga sedang menguji Slackbot generasi baru, asisten AI personal yang dapat belajar dari kebiasaan pengguna dan memberikan rekomendasi proaktif.
Lebih jauh lagi, Slack akan menjadi pusat pencarian enterprise masa depan karena terhubung langsung dengan layanan populer seperti Gmail, Outlook, dan Dropbox.
“Dengan Agentforce 360, kami ingin membuat AI enterprise menjadi lebih mudah dibangun, lebih manusiawi, dan lebih berguna,” ujar perwakilan Salesforce dalam siaran persnya, seperti dikutip TechCrunch.
Pertarungan Panas di Dunia AI Enterprise
Langkah agresif Salesforce itu datang di saat pasar AI enterprise tengah memanas. Hanya sepekan sebelumnya, Google meluncurkan Gemini Enterprise, platform agen AI untuk korporasi besar.
Di sisi lain, Anthropic juga mulai menunjukkan dominasinya lewat Claude Enterprise. Anthropic baru saja menandatangani kemitraan dengan Deloitte untuk menghadirkan Claude ke 500.000 karyawan di dunia.
Sehari setelahnya, Anthropic juga mengumumkan aliansi strategis bersama IBM. Dengan Agentforce 360, Salesforce jelas ingin memastikan dirinya tetap berada di garis depan dalam perang agen AI ini.
Salesforce mengklaim lebih dari 12.000 perusahaan telah menggunakan Agentforce. Beberapa pelanggan awal yang ikut menjajal pembaruan Agentforce 360 antara lain Lennar, Adecco, dan Pearson.
Tantangan Besar Masih Menanti
Namun, di balik optimisme itu, Salesforce dan para pemain AI lainnya masih menghadapi tantangan berat. Sebuah studi dari MIT baru-baru ini mengungkapkan bahwa 95 persen proyek AI enterprise gagal sebelum mencapai tahap produksi.
Penyebab utamanya, perusahaan kesulitan mengukur manfaat nyata dari investasi AI yang mereka lakukan. Artinya, tantangan terbesar bukan lagi membangun AI, tetapi memastikan AI benar-benar bekerja di dunia nyata.
Peluncuran Agentforce 360 menunjukkan bahwa Salesforce tak mau sekadar jadi penonton dalam perlombaan AI enterprise.
Dengan semua solusi yang ada, Salesforce memposisikan AI sebagai mitra kerja yang bisa berpikir, beradaptasi, dan berbicara seperti manusia.


