Di tengah meningkatnya isu keamanan data, IBM menghadirkan opsi penerapan mandiri (self-hosted) untuk platform kecerdasan buatan (AI) miliknya, Bob.
Melalui pembaruan ini, IBM memungkinkan korporasi menjalankan teknologi agen AI secara mandiri pada infrastruktur data milik sendiri, baik di lingkungan on-premises (lokal), private cloud, maupun sovereign cloud (awan berdaulat).
Fleksibilitas itu dirancang khusus bagi perusahaan yang mengelola data teregulasi, infrastruktur penting (mission-critical), maupun kode sumber yang sensitif.
”Organisasi membutuhkan AI yang bisa beroperasi di dalam lingkungan yang dapat mereka kendalikan, terutama saat bekerja dengan kode sensitif dan data yang teregulasi,” ujar Neel Sundaresan (General Manager of AI and Automation di IBM) dalam pengumumannya.
Langkah itu mencerminkan fokus IBM dalam merancang sistem AI lintas cloud, lingkungan lokal, dan berbagai model. Di saat yang sama, perusahaan juga menghadirkan transparansi (observability), tata kelola (governance), serta keamanan yang menjadi prioritas utama para eksekutif teknologi informasi (TI).
Strategi Hybrid dan Penguatan Ekosistem watsonx
Sebelumnya, CEO IBM Arvind Krishna menjelaskan bahwa platform IBM Bob membantu perusahaan membangun aplikasi dan agen AI.
Kehadiran Bob juga membuka jalur adopsi yang mulus menuju platform tata kelola agen AI milik IBM, yakni watsonx Orchestrate dan ekosistem AI yang lebih luas.
”Strategi AI kami berpijak pada tiga pilar utama yaitu hybrid, kedaulatan, dan kepercayaan,” katanya.
Pendekatan ini sejalan dengan laporan Information Services Group yang mencatat bahwa lebih dari 80 persen organisasi kini sedang meninjau ulang rencana cloud-nya untuk mendukung penerapan AI.
Hasilnya, pendekatan hybrid yang kerap memadukan layanan public, private, dan sovereign cloud sangat diminati pasar.
Tantangan Tata Kelola dan Keamanan Agen AI
Isu tata kelola, khususnya untuk agen AI mandiri (AI agents), menjadi semakin krusial. Sejumlah insiden keamanan seperti kasus agen OpenAI yang menyusup ke instansi pemerintah Australia telah memicu kekhawatiran mendalam di kalangan pemimpin TI.
Bahkan, riset New Relic menunjukkan bahwa satu dari setiap empat agen AI beroperasi tanpa pengawasan di dalam lingkungan perusahaan, sehingga memicu risiko operasional yang signifikan.
Untuk merespons tantangan tersebut, raksasa infrastruktur Nvidia baru-baru ini meluncurkan Open Agent Safety Platform untuk memperkuat keamanan dan pengawasan AI.
Platform beserta teknologi turunannya telah diadopsi oleh lebih dari 100 perusahaan, termasuk Microsoft dan Salesforce. Di saat yang sama, para pemain besar lainnya seperti Google, AWS, dan OpenAI turut merilis platform tata kelola agen AI masing-masing.
”Masa depan AI perusahaan akan sangat bergantung pada keamanan, tata kelola, dan kedaulatan,” pungkas Sundaresan.
Bagaimana pandangan Anda mengenai penerapan AI mandiri untuk menjaga keamanan data perusahaan di era hybrid cloud saat ini?

