Salesforce Luncurkan AIforce, Jembatani Data CRM ke Berbagai Antarmuka AI

​Salesforce kembali mencuri perhatian di ajang Dreamforce 2026. Di tengah lanskap teknologi yang bergerak cepat, raksasa penyedia manajemen hubungan pelanggan (customer relationship management atau CRM) itu resmi memperkenalkan lapisan konektif (connective layer) bernama AIforce.

​Inovasi ini dirancang khusus untuk memperkuat arsitektur perusahaan berbasis agen (agentic enterprise architecture).

Kehadirannya menandai babak baru dalam cara data, alur kerja, dan tata kelola Salesforce. Sistem itu terhubung langsung ke berbagai antarmuka kecerdasan buatan (AI) pihak ketiga.

​Ekosistem Fleksibel di Berbagai Platform

​Berdasarkan siaran pers resmi, AIforce berfungsi sebagai lapisan antarmuka yang mengintegrasikan fondasi Data 360, Customer 360, dan Agentforce ke dalam berbagai ekosistem AI.

Tidak hanya itu, sistem itu juga memungkinkan perusahaan membangun antarmuka pengguna (user interface atau UI) secara kustom guna menampilkan wawasan penting di platform produktivitas pilihan mereka.

​CEO sekaligus Chairman Salesforce Marc Benioff mengungkapkan bahwa terobosan itu menggabungkan kecerdasan model AI dengan konteks data Salesforce untuk menciptakan sistem yang selaras dengan platform inti perusahaan.

​“Empat lapisan ini ada data, aplikasi dan semantik, agen, dan antarmuka. Itulah yang ingin kami transformasikan sekarang,” ujar Benioff dalam pidato utamanya di Dreamforce.

​Langkah strategis ini sekaligus memperkokoh investasi Salesforce di sektor agen AI, seiring tingginya antusiasme belanja korporat. Menurut laporan Gartner, pengeluaran global untuk AI diproyeksikan mencapai USD2,59 triliun pada tahun ini, didorong oleh perusahaan yang melipatgandakan anggaran untuk AI generatif dan agen.

​Benioff menjelaskan bahwa AIforce bekerja di atas sistem inti Salesforce, termasuk Agentforce. Sistem ini terhubung ke alat produktivitas AI milik perusahaan lain dengan tetap mempertahankan konteks serta perizinan yang selama ini berlaku di lingkungan Salesforce.

​Selain itu, sistem ini dirancang dengan kebijakan nihil retensi data (zero data retention policy), meski karyawan maupun agen tetap leluasa menarik jawaban dari data Salesforce.

​“Orang-orang tidak harus datang ke Salesforce untuk menyelesaikan pekerjaan. Salesforce yang akan mendatangi mereka, baik di Claude, Slack, ChatGPT, maupun Teams, di mana pun mereka ingin bekerja,” kata Benioff.

“Ini adalah pergeseran dari perangkat lunak sebagai antarmuka menjadi perangkat lunak yang menggerakkan setiap antarmuka,” ucapnya.

Menakar Peluang dan Tantangan di Lapangan

​Dari sudut pandang industri, inovasi ini dinilai mampu memangkas waktu tunggu pelanggan yang selama ini harus bergantung pada administrator Salesforce untuk menyelesaikan kendala. Hasilnya, mereka bisa meraih nilai tambah dengan jauh lebih cepat.

​Terra Higginson (Analis Terkemuka Info-Tech Research Group) menilai langkah ini sukses membawa konsep CRM khas Salesforce ke level yang lebih tinggi.

​“Orang-orang dapat menggunakan CRM di mana pun yang paling masuk akal bagi mereka. Sementara data, logika, izin, dan alur kerja yang menjalankan bisnis tetap berada di dalam Salesforce,” ujarnya.

​Kendati demikian, Higginson mengingatkan bahwa AIforce berpotensi memunculkan lapisan biaya baru bagi perusahaan. Teknologi ini juga tidak serta-merta menyelesaikan tantangan data tradisional, pelanggan tetap membutuhkan fondasi data yang bersih, terhubung, dan terkelola rapi di bagian belakang.

​Tantangan senada turut disoroti oleh Igor Ikonnikov (Advisory Fellow di Info-Tech Research Group). Meskipun AIforce menjanjikan kebebasan bagi pengguna untuk merancang antarmuka sendiri, proses desain UI tetap menuntut keterampilan tambahan yang bisa menjadi batu sandungan bagi sebagian kalangan.

​“Meskipun mengaktifkan pembuatan UI untuk pengguna bisnis yang paham teknologi adalah ide yang bagus secara teori,” tambahnya.

Perluasan Kemitraan Strategis Global

​Selain meluncurkan AIforce, Salesforce memanfaatkan panggung Dreamforce untuk mengumumkan perluasan kerja sama strategis dengan Google Cloud dan AWS.

Melalui pembaruan ini, korporasi kini dapat menampilkan konteks bisnis secara langsung melalui alat seperti Amazon Quick. Sementara agen perintis AWS (frontier agents) akan terintegrasi ke dalam platform Slack.

​Di saat yang sama, Hyperforce, infrastruktur generasi berikutnya dari Salesforce untuk komputasi awan publik dipastikan akan berjalan di atas Google Cloud. Integrasi mendalam ini memungkinkan perusahaan untuk menampilkan data Salesforce secara mulus di dalam Gemini Enterprise.

Baca Juga