Transformasi AI Bakal Genjot Laba Korporasi Global USD4,7 Triliun

​Gelombang kecerdasan buatan (AI) diproyeksikan membawa perubahan yang jauh lebih radikal ketimbang era kebangkitan internet.

Riset terbaru Bain & Co menunjukkan teknologi AI bakal merombak hampir tiga perempat sektor bisnis global menjelang 2035, dengan total potensi keuntungan korporasi menyentuh USD4,7 triliun.

​Perbandingan Dampak Ekonomi AI dan Internet

​Bain & Co. membedah tren keuntungan dan pergeseran struktural masa lalu untuk melihat kontras antara internet dan AI.

Jika internet di masanya sukses mereduksi biaya distribusi dan memperluas akses pelanggan. Maka inovasi AI justru melangkah lebih jauh dengan meruntuhkan biaya produksi itu sendiri.

​Lonjakan ekonominya pun tidak main-main. Dampak yang dihasilkan AI diperkirakan melampaui tiga kali lipat dampak internet dalam kurun waktu satu dekade.

Catatan riset memperlihatkan bahwa hanya 41 persen sektor bisnis yang tersentuh transformasi internet pada rentang 1995 hingga 2015. Sebaliknya, porsi industri yang bakal ditransformasikan oleh AI melonjak drastis hingga menyentuh angka 71 persen.

​Bagi para Chief Information Officer (CIO), dinamika ini menuntut aksi nyata untuk terus menggenjot transformasi teknologi di tubuh perusahaan.

​”Mereka perlu menentukan posisi masa depan dengan memikirkan keuntungan industri, bagaimana cara mereka menang, dan apa yang dibutuhkan dari teknologi tersebut,” ujar Dunigan O’Keeffec (Mitra Praktik Strategi Bain & Co) dalam wawancara melalui surel dengan CIO Dive.

​Tantangan Pengukuran dan Realitas Lapangan

​Di balik masifnya kampanye para vendor AI soal efisiensi kerja dan optimalisasi produksi fisik, perusahaan masih dihadapkan pada satu kendala klasik: mengukur tingkat pengembalian investasi atau ROI.

​Sebuah studi dari Glean’s Work AI Institute pada Juni lalu mencatat bahwa otomatisasi rata-rata mampu menghemat waktu pekerja hingga 11 jam per minggu.

Ironisnya, para karyawan justru mengaku bahwa sebagian besar waktu luang tersebut habis tersita untuk mengelola, memverifikasi, serta merapikan keluaran (output) dari sistem AI.

​O’Keeffe menekankan bahwa esensi kehadiran AI di ranah enterprise bukanlah sekadar mengadopsi teknologi baru, melainkan memicu transformasi bisnis secara menyeluruh yang mendongkrak kapabilitas operasional sektor terkait.

​”CIO berada pada posisi yang unik untuk mengambil peran kepemimpinan karena percakapan ini memerlukan pemahaman mendalam mengenai apa yang dimungkinkan oleh teknologi,” tambah O’Keeffe.

​Strategi Korporasi Memburu Keunggulan Kompetitif

​Peningkatan produktivitas, inovasi, perluasan pangsa pasar, dan pergeseran kompetitif akan menjadi pilar utama penggerak bisnis ke depan.

Guna mengarungi periode krusial ini, para CIO disarankan membangun kecerdasan mandiri (proprietary intelligence) yang memuat data spesifik, teknologi, serta sistem pembelajaran internal demi mengunci keunggulan kompetitif.

​Mengejar efisiensi memang penting, namun dampaknya kerap kalah besar dibandingkan memburu target inovasi yang spesifik.

Laporan tersebut merinci bahwa kemajuan di sektor produktivitas murni menyumbang sekitar USD1,1 triliun dari keuntungan baru. Sementara itu, inovasi dan pergeseran kompetitif justru mendominasi lonjakan laba hingga mencapai USD3,5 triliun.

​Selain itu, para pemimpin teknologi dituntut sigap mengukur kecepatan perusahaan mereka beradu dengan kompetitor tercepat di industri masing-masing. Mereka juga perlu merangkum dan membagikan pembelajaran dari lini depan (frontline learnings) guna mempertajam arah investasi teknologi jangka panjang.

​”CIO adalah katalisator untuk membuat transformasi ini tetap dinamis, memantau di mana organisasi melihat hasil, mengidentifikasi hambatan baru untuk diselesaikan, serta memahami bagaimana batas teknologi terus berkembang,” tutup O’Keeffe.

Baca Juga

Kunci Sukses JPMorgan Chase Kembangkan AI

Dua tahun berselang, JPMorgan menasbihkan diri sebagai pemimpin global pemanfaatan AI, menduduki peringkat teratas bank pada daftar Fortune AIQ 50 dan posisi ketiga secara keseluruhan di bawah raksasa teknologi.