Sudah Dihemat Mati-matian, Biaya IT Perusahaan Tetap Jebol Gegara AI

​Penerapan kecerdasan buatan (AI) secara masif terbukti mengerek anggaran teknologi informasi perusahaan secara signifikan.

Laporan terbaru dari lembaga konsultan manajemen Bain & Co menunjukkan adopsi AI berpotensi mendongkrak biaya IT hingga 75 persen dalam kurun waktu kurang dari satu dekade.

Bahkan dengan strategi pengelolaan yang matang, anggaran korporasi dipastikan tetap meroket seiring integrasi teknologi AI ke dalam berbagai lini operasional harian.

​Analisis tren belanja itu mengungkapkan perusahaan dengan pendapatan USD10 miliar akan menghadapi lonjakan biaya tahunan sebesar 75 persen pada 2035. Tanpa kontrol finansial yang ketat, laju pertumbuhan pengeluaran itu dipastikan melonjak jauh lebih cepat.

​Lonjakan Komponen Biaya dan Kompleksitas Sistem

​Kehadiran pos-pos biaya baru mulai membebani neraca keuangan seiring masifnya adopsi teknologi cerdas. Riset lembaga analis Gartner memperkirakan belanja khusus untuk model dan platform AI saja akan menembus USD64 miliar atau meroket lebih dari 63 persen dibanding tahun lalu.

Peningkatan penggunaan itu memicu lonjakan permintaan daya komputasi yang secara otomatis mendongkrak belanja IT global sebesar 14,2 persen secara tahunan.

​Pemicu utama pembengkakan anggaran tidak lepas dari kompleksitas arsitektur sistem, kebutuhan pos keamanan siber, dan aturan tata kelola data (data governance) yang semakin ketat. Faktor investasi pengembangan talenta digital dan cepatnya masa keusangan platform AI turut memperbesar beban finansial tersebut.

​Dampak Lintas Sektor dan Risiko Universal

​Tren kenaikan biaya itu diyakini akan merambah ke berbagai industri secara universal. Danielle Burgs Escobar (Kepala Praktik Teknologi Perusahaan Bain & Co) menyatakan fenomena itu bakal dirasakan lintas sektor meski dengan tingkat ekstremitas dan rentang waktu yang berbeda.

​”Mungkin lebih atau kurang ekstrem dan juga dalam skala waktu yang berbeda. Namun, saya pikir trennya akan cukup universal,” ujarnya kepada CIO Dive.

​Di tengah pembengkakan biaya tersebut, sebagian besar korporasi masih kesulitan mengukur laba atas investasi atau Return on Investment (ROI) dari pengeluaran AI sebelumnya. Bahkan, sebuah laporan mencatat seperempat dari anggaran AI berujung sia-sia karena proyek percontohan terpaksa dihentikan di tengah jalan.

​Strategi Pengelolaan dan Keseimbangan Investasi

​Menghadapi dilema efisiensi, para eksekutif dituntut memperlakukan setiap proyek teknologi sebagai keputusan investasi dengan tingkat ketelitian tinggi.

Perusahaan harus lebih disiplin meningkatkan transparansi perencanaan belanja dan memutar kembali dana efisiensi yang dihasilkan oleh otomatisasi AI. ​Kendati demikian, mengambil langkah yang terlalu konservatif justru menyimpan risiko bisnis yang fatal.

​”Jika Anda kurang berinvestasi, Anda akan tertinggal dan keunggulan kompetitif Anda akan tergerus. Anda melakukan segala sesuatunya dengan cara lama dan Anda tidak memanfaatkan teknologi,” tegas Escobar.

​Sebaliknya, pengeluaran yang berlebihan juga membawa dampak negatif tersendiri bagi kelangsungan organisasi. Keseimbangan strategi menjadi kunci utama agar adopsi teknologi memberikan hasil nyata.

​”Ketika Anda terlalu banyak membelanjakan uang, anda akan kehilangan kredibilitas di dalam organisasi Anda,” pungkas Escobar.

Baca Juga

Mengapa Proyek IT Masih Sering Gagal?

Jika berbicara statistik industri berdasarkan laporan Project Management Institute (PMI) 2026 Pulse of the Profession, sebanyak 31 persen proyek kompleks gagal memberikan seluruh manfaat dari hasil akhir yang semula ditargetkan.