Evolusi kecerdasan buatan (AI) memaksa perusahaan teknologi global mendefinisikan ulang posisi pemimpin teknologinya. Thimaya Subaiya (EVP of Operations Cisco) mengungkapkan bagaimana kehadiran agen AI bisa mengubah standar tradisional seorang Chief Information Officer (CIO) secara drastis.
Subaiya menjelaskan ketika agen AI mampu mengambil alih lapisan antarmuka dan terhubung langsung ke berbagai sumber data, maka fokus kepemimpinan IT telah bergeser.
Dulu, CIO harus jago memahami pengalaman pengguna (UX), integrasi aplikasi, dan mempertimbangkan perusahaan harus membangun atau membeli solusi. Kini timbul pertanyaan fundamental, apakah sebuah birokrasi atau tahapan kerja lama masih dibutuhkan ketika AI bisa menyelesaikannya secara instan?.
Menata Ulang Kepemimpinan AI dan Operasi
Di Cisco, Subaiya memegang kendali atas rantai pasok global, keamanan dan kepercayaan, sistem internal, keamanan pusat data, divisi CIO, operasi pendapatan, manajemen kemitraan, dan strategi AI. Dua setengah tahun lalu, ia mengonsolidasikan inisiatif AI di seluruh perusahaan dan menunjuk seorang Chief AI Officer (CAIO).
”Awalnya, CAIO bertugas menggali dan mengeksekusi berbagai kebutuhan operasional yang bisa diselesaikan dengan AI,” ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, peran tersebut berkembang pesat. Cisco memisahkan fungsi CAIO untuk fokus mengurus tata kelola dan eksekusi AI terutama dengan mengadopsi kerangka kerja Model Context Protocol (MCP).
”CAIO harus mampu menceritakan kesuksesan Cisco dalam menjalankan AI karena kami memiliki laboratorium sendiri untuk mengui coba untuk ide-ide baru. Jika kami terus mengandalkan banyak vendor seperti di masa lalu, kami tidak akan dapat berintegrasi dalam skala besar. Inilah sebabnya mengapa kami mengisolasi peran CAIO,” paparnya.
Namun, ia memastikan bahwa posisi CAIO nantinya akan melebur kembali ke dalam struktur IT.
Kriteria Baru Calon CIO Cisco
Saat ini, Cisco sedang memburu sosok CIO baru dengan kriteria yang jauh berbeda dari masa lalu. Menurut Subaiya, saat ini CIO dituntut untuk mampu merombak proses bisnis. Apalagi, dengan kehadiran protokol MCP yang mampu mengakses data apa pun kapan saja dan agen AI yang menggantikan antarmuka tradisional
”CIO ideal saat ini adalah pemimpin disruptif yang mampu berpikir ulang cara kerja perusahaan bukan sekadar mengurus aplikasi baik dari kalangan tradisional yang adaptif maupun profesional manajemen produk,” tegas Subaiya.
Ia menambahkan Cisco memiliki kriteria utama CIO yaitu meliputi strategi, kecepatan eksekusi, dan kemampuan untuk melakukan penskalaan karena Cisco menghindari proyek-proyek sains tanpa hasil nyata.
Sebagai ilustrasi, ketika tim penjualan meminta alat prediksi tren yang lebih baik, pendekatan lama menuntut keputusan build or buy. Kini, pertanyaannya adalah apakah perusahaan benar-benar membutuhkan solusi prediksi tren tersebut, atau justru dapat diserahkan sepenuhnya kepada agen AI.
Tak hanya itu, Cisco juga memperhatikan latar belakang calon CIO. CIO yang memiliki latar belakang manajer produk sangat relevan karena mampu memahami berbagai aspek pembentukan produk, mulai dari kebutuhan pengguna, hasil bisnis, kesesuaian pasar, hingga eksekusi pembangunan.
“Jalur ideal bagi CIO masa depan mencakup fondasi ilmu data, manajemen produk, dan transformasi,” ujarnya.
Pemisahan Keamanan Siber dan Visi Masa Depan
Terkait keamanan, Subaiya akan memisahkannya menjadi divisi sendiri supaya fokus dalam menguji solusi siber baru untuk model AI tingkat lanjut.
“Sistem pertahanan melawan serangan AI membutuhkan AI itu sendiri. Jika digabung dengan CIO, maka keamanan akan kehilangan fokus bisnis utama. Ini telah menjadi pembahasan level dewan direksi,” ungkapnya.
Indikator kesuksesan CIO baru di Cisco mencakup perampingan jumlah aplikasi internal (application footprint), yaitu berkurangnya tumpukan perangkat lunak terpisah yang harus dikelola perusahaan. Hal itu dikarenakan tugas-tugas operasional kini digantikan secara efisien oleh agen AI. Indikator lainnya adalah peningkatan produktivitas dan percepatan rilis produk baru.
Subaiya mengakui jabatan CIO di Cisco sebagai salah satu pekerjaan paling menarik di industri saat ini karena perusahaan menggabungkan jaringan, keamanan, observabilitas, dan kolaborasi dalam satu tumpukan AI end-to-end.
Bahkan, Cisco berambisi menjadi perusahaan pertama yang meluncurkan agen AI personal bagi setiap karyawannya melalui Webex.
”Setiap generasi memiliki teknologi yang mampu mendefinisikan ulang cara bekerja, termasuk internet, iPhone, dan sekarang AI. Mendapatkan kesempatan untuk membangun hal-hal seperti itu adalah hal paling mengasyikkan bagi seorang pemimpin inovatif,” pungkasnya.


