Di balik euforia adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI), terselip jurang persepsi yang lebar di ruang rapat direksi perusahaan.
Sebuah survei terbaru dari firma konsultasi Protiviti yang bekerja sama dengan University of Oxford mengungkapkan ketimpangan tingkat kepercayaan yang signifikan antara pemimpin teknologi dan pimpinan tertinggi perusahaan mengenai nilai bisnis dari teknologi ini.
Laporan yang melibatkan lebih dari 850 eksekutif global tersebut menyoroti adanya perbedaan sudut pandang yang mencolok.
CIO (Chief Information Officer) dan pemimpin teknologi lainnya memiliki keyakinan bersih sebesar 61 persen bahwa AI mampu memacu pertumbuhan pendapatan. Sebaliknya, kepercayaan di kalangan CEO dan jajaran komisaris tercatat hanya mencapai separuh dari angka tersebut.
Kunci Utama Penyelarasan Visi
Survei ini menegaskan bahwa kematangan organisasi dalam transformasi AI sangat menentukan hasil kinerja. Namun, faktor penentu yang mendasari keyakinan terhadap AI adalah sejauh mana jajaran eksekutif memiliki kesamaan visi mengenai target yang ingin dicapai.
Kim Bozzella (Global CIO Solutions Leader di Protiviti) menekankan bahwa strategi transformasi secanggih apa pun tidak akan memberikan hasil maksimal tanpa kesepakatan mengenai definisi “kesuksesan”.
”Strategi transformasi teknologi yang matang sekalipun tidak akan memberikan dampak nyata jika tim kepemimpinan tidak selaras mengenai seperti apa bentuk keberhasilannya,” ujar Bozzella dalam keterangan resminya.
Tantangan Mengukur ROI
Bagi banyak entitas bisnis, memetik nilai nyata dari AI tetap menjadi tantangan yang pelik. Perusahaan kerap terbentur masalah fundamental, mulai dari tata kelola data yang kompleks, beban biaya yang tinggi, hingga kesenjangan keterampilan tenaga kerja.
Bozzella menjelaskan perusahaan yang berada di tahap awal transformasi sering kali kesulitan mengukur Return on Investment (ROI) atau laba atas investasi AI. Hal ini terjadi karena keuntungan dari teknologi tersebut jarang bersifat instan atau mudah dikuantifikasi dalam waktu singkat.
Persoalan kian rumit ketika anggota jajaran eksekutif (C-suite) memandang teknologi dari kacamata yang berbeda.
Pemimpin teknis mungkin sangat memahami implementasi dan pengelolaan proyek AI, tetapi sering kali gagal menerjemahkan nilai bisnis tersebut ke dalam bahasa angka yang dipahami oleh CEO.
Meski demikian, tidak semua eksekutif non-teknis bersikap skeptis. Sebanyak 40 persen Chief Operating Officer (COO) justru menunjukkan optimisme tinggi bahwa AI memiliki potensi besar sebagai mesin pencipta nilai bagi perusahaan.
Strategi Menjembatani Kesenjangan
Guna menyatukan persepsi, organisasi memerlukan pemahaman universal mengenai indikator kesuksesan. Bozzella mengingatkan perusahaan agar tidak terjebak pada asumsi keliru bahwa peningkatan produktivitas otomatis berbanding lurus dengan nilai bisnis yang nyata.
Untuk mencapai keselarasan tersebut, perusahaan perlu menerapkan metrik bersama, meningkatkan komunikasi progres teknis, serta memperkuat tata kelola yang konsisten. Idealnya, penyelarasan strategi bisnis ini dilakukan jauh sebelum proses transformasi dimulai.
”Dari perspektif CIO, ini berarti menambatkan program AI pada strategi perusahaan, mendefinisikan KPI (Key Performance Indicators) yang terukur, serta secara rutin mengomunikasikan progres dalam bahasa bisnis bukan bahasa teknis untuk membangun kepercayaan dalam realisasi ROI,” pungkas Bozzella.


