Memasuki tahun 2026, euforia kecerdasan buatan (AI) mulai berbenturan keras dengan realitas di ruang rapat direksi.
Setelah bertahun-tahun terjebak dalam eksperimen tanpa henti, para pemimpin teknologi kini menghadapi ultimatum tunggal yaitu tunjukkan hasil nyata atau hentikan pendanaan sama sekali.
Laporan terbaru dari firma penasihat AI Solvd mengungkap tren yang kontradiktif tetapi mencerahkan.
Berdasarkan survei terhadap 500 Chief Information Officer (CIO) dan Chief Technology Officer (CTO) perusahaan skala besar di Amerika Serikat (AS), terungkap bahwa hambatan utama proyek AI bukanlah teknologi yang belum matang melainkan manajemen yang keropos.
Masalah Tata Kelola, Bukan Teknologi
Data Solvd menunjukkan bahwa 80 persen pemimpin teknologi mengakui kegagalan proyek AI disebabkan oleh kurangnya visibilitas dan pengawasan. Ironisnya, kebocoran ini justru terjadi di tengah tren pertumbuhan anggaran AI yang sedang pesat-pesatnya.
Di lapangan, kendala utama yang ditemukan mencakup:
- Ketiadaan kerangka kerja (framework) dan infrastruktur pendukung yang memadai.
- Lemahnya koordinasi lintas eksperimen dalam organisasi.
- Ketidakjelasan kepemilikan (ownership) proyek yang memicu kebingungan operasional.
Kini, meskipun 71 persen pemimpin berniat meningkatkan investasi AI pada 2026, setiap sen pengeluaran berada di bawah “mikroskop” dewan direksi.
Lebih dari empat perlima CIO dan CTO melaporkan bahwa para petinggi mulai mempertanyakan rasionalitas di balik angka-angka fantastis yang mereka gelontorkan untuk AI.
Strategi Portofolio, Berani Gagal untuk Berhasil
Menyikapi ketidakpastian tersebut, sejumlah perusahaan mulai menerapkan strategi portofolio. Perusahaan menjalankan beberapa eksperimen AI secara simultan dengan asumsi realistis bahwa beberapa di antaranya pasti akan gugur di tengah jalan.
CEO Solvd Mike Hulbert menjelaskan, industri kini telah bergeser ke fase yang lebih matang dibandingkan periode hype tahun 2022 yang diwarnai kegagalan berulang. Namun, ia mengingatkan bahwa membangun proyek percontohan (pilot project) yang sukses tetap membutuhkan ketekunan dan beberapa kali percobaan.
“Meskipun terasa menyakitkan, pendekatan yang tepat adalah membuang proyek yang gagal dan memulai kembali dengan seluruh pembelajaran yang ada, arsitektur yang lebih kokoh, serta cakupan penggunaan yang lebih luas,” ujar Hulbert sebagaimana dikutip dari CIO Dive.
Memutus Siklus Investasi Sia-sia
Bagi sebagian pemimpin teknologi, menghentikan proyek di tengah jalan sering kali dianggap sebagai kekalahan telak.
Namun, data justru menunjukkan bahwa 52 persen organisasi terjebak dalam jebakan biaya tertanam (sunk cost), di mana mereka terus mendanai proyek yang tidak memberikan dampak nyata.
Pada 2026, transparansi menjadi harga mati. Tekanan terhadap pemimpin teknologi untuk menyajikan hasil berbasis data valid semakin menguat.
Proyek yang gagal membuktikan pengembalian investasi (Return on Investment/ROI) kemungkinan besar akan segera dipangkas dari anggaran tahunan.
Pendekatan “buang dan mulai lagi” ini memang menabrak pakem investasi teknologi tradisional yang biasanya bersifat akumulatif.
“Selalu ada ide bahwa kita membangun fondasi, melakukan investasi mendasar, lalu membangun di atasnya seiring waktu,” kata Hulbert.
“Namun, itu bukan hal yang kita tuju dengan AI. Teknologi dasarnya bergerak sangat cepat sehingga ada kalanya jawaban yang tepat adalah membuangnya saja,” ujarnya.
Menuju Ekosistem AI yang Akuntabel
Laporan ini menjadi peringatan keras bagi pelaku industri. Keberhasilan AI tidak lagi hanya bergantung pada kecanggihan algoritma, tetapi pada kejelasan tata kelola dan keberanian manajemen untuk menyudahi proyek yang tidak produktif.
Pada akhirnya, tahun 2026 akan menjadi babak penyisihan alami. Hanya proyek AI yang mampu memberikan nilai ekonomi nyata yang akan bertahan di tengah pengawasan ketat para pemegang kebijakan perusahaan.


