Di tengah gegap gempita revolusi Kecerdasan Buatan (AI), sebuah realitas pahit muncul dari balik layar infrastruktur digital global.
Meski investasi teknologi awan (cloud) telah digelontorkan selama bertahun-tahun, mayoritas perusahaan ternyata belum cukup “matang” menopang ambisi AI yang kian masif.
Laporan terbaru raksasa layanan teknologi NTT DATA mengungkapkan fakta yang cukup mengkhawatirkan, hanya 14 persen perusahaan yang telah mencapai tingkat kematangan cloud tertinggi.
Riset yang melibatkan 2.300 pengambil keputusan senior di 33 negara itu memotret adanya jurang lebar antara ekspektasi inovasi dan realitas infrastruktur di lapangan.
Jebakan Infrastruktur, Cloud Bukan Sekadar “Hosting”
Bagi sebagian besar pelaku bisnis, teknologi cloud masih dipandang secara sempit. Mayoritas perusahaan terjebak di tahap awal kematangan, di mana cloud hanya digunakan sebagai wadah penampung beban kerja atau sekadar penyedia hosting infrastruktur tradisional.
Kondisi ini berdampak langsung pada kepercayaan diri para petinggi perusahaan. Berdasarkan survei tersebut, kurang dari separuh pemimpin menyatakan puas terhadap kinerja cloud dalam mendorong inovasi.
Sisanya, mereka melihat layanan cloud kurang mampu mewujudkan ambisi perusahaan. Hal itu memicu diskoneksi fatal antara rencana penerapan AI yang ambisius dengan kapasitas sistem pendukungnya.
Charlie Li (President dan Global Head of Cloud and Security NTT DATA) menegaskan peran cloud telah bergeser secara fundamental.
”Kini peran cloud tidak hanya dalam infrastruktur saja tetapi juga menjadi inti operasional AI. Organisasi yang gagal membangun fondasi cloud akan berdampak pada perlambatan pertumbuhan bisnis dan investasi,” ujar Li dalam rilis resminya seperti dikutip CIO Dive
Paradoks Anggaran dan “Hantu” Sistem Lama
Menariknya, meski tingkat kepuasan rendah, dunia usaha justru berniat tancap gas. Tiga perempat perusahaan memproyeksikan kenaikan belanja cloud yang signifikan dalam dua tahun ke depan.
Tren itu dipicu oleh kesadaran bahwa model AI tingkat lanjut memerlukan data berkualitas tinggi dan arsitektur yang tepat demi hasil optimal.
Namun, langkah modernisasi itu kerap terganjal oleh “hantu” masa lalu seperti sistem warisan (legacy) yang rumit.
“Banyak organisasi mengelola aset aplikasi kompleks yang sulit untuk dikonfigurasi ulang (refactor), diintegrasikan, atau dipensiunkan,” tulis NTT DATA dalam laporannya.
Masalah teknis ini kian diperparah oleh kelangkaan talenta. Hampir separuh pemimpin yang disurvei menyebutkan bahwa kurangnya keterampilan AI menjadi penghalang utama strategi mereka setahun ke depan.
Minimnya keahlian dalam pengembangan cloud-native, otomatisasi, dan DevOps meningkatkan risiko kegagalan eksekusi saat AI menuntut fleksibilitas arsitektur yang lebih tinggi.
Dominasi Hyperscaler di Tengah Kompetisi AI
Di sisi lain, para raksasa penyedia layanan cloud atau hyperscalers seperti AWS, Microsoft, dan Google terus berlomba memikat nasabah korporat. Perusahaan raksasa IT itu menawarkan ekosistem AI yang paling organik dengan menawarkan beragam layanan AI generatif siap pakai.
Strategi itu terbukti membuahkan hasil manis bagi neraca keuangan mereka. Data Synergy Research Group menunjukkan pasar layanan infrastruktur cloud mencapai angka fantastis 419 miliar dolar AS tahun lalu dan AI generatif sebagai motor penggerak utamanya.
Pada akhirnya, keberhasilan adopsi AI bukan sekadar urusan membeli model algoritma yang paling canggih.
Keberhasilan tersebut bergantung pada seberapa cepat perusahaan mampu membenahi “rumah” digitalnya. Tanpa landasan cloud yang matang, visi AI yang transformatif hanya akan menjadi tumpukan investasi tanpa hasil nyata.


