Di balik kecanggihan asisten digital dan sistem otomatisasi yang kita gunakan hari ini, terdapat “mesin raksasa” yang membutuhkan dana fantastis agar tetap berputar.
Laporan terbaru firma analis Omdia mengungkap angka yang mencengangkan. Belanja infrastruktur cloud global menyentuh USD110,9 miliar atau setara Rp1.870 triliun pada kuartal penutup 2025.
Angka itu merepresentasikan pertumbuhan sebesar 29 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year).
Lonjakan masif itu dipicu oleh ambisi para raksasa teknologi atau hyperscaler dalam memperluas kapasitas infrastruktur AI untuk memenuhi permintaan korporasi yang terus meroket.
Era ‘Agentic AI’ sebagai Fondasi Baru
Pergeseran tren adopsi AI di dunia usaha kini bergerak menuju sistem agentic AI. Berbeda dengan model konvensional, sistem agentic AI tidak sekadar menjawab pertanyaan, tetapi mampu menjalankan tugas secara mandiri dan terintegrasi dalam alur kerja perusahaan.
Perubahan fundamental itu menuntut infrastruktur yang tidak hanya dapat ditingkatkan (scalable), tetapi juga mampu beroperasi secara efektif.
Dalam peta persaingan ini, Amazon Web Services (AWS) tetap mengukuhkan posisinya sebagai penguasa pasar dengan pertumbuhan pendapatan 24 persen pada kuartal tersebut.
Namun, para pesaingnya membayangi dengan akselerasi yang lebih agresif. Microsoft Azure mencatat pertumbuhan 39 persen. Sementara itu Google Cloud melesat hingga 50 persen.
Rachel Brindley (Senior Director Omdia) menyoroti tantangan baru bagi para penyedia layanan tersebut.
“Bagi vendor cloud, tantangannya bukan lagi sekadar seberapa cepat mereka bisa meningkatkan kapasitas untuk memenuhi lonjakan permintaan, tetapi disiplin dalam menjaga kecepatan investasi, alokasi sumber daya, hingga efisiensi operasional global,” jelasnya dalam laporan tersebut.
Benturan Ambisi dan Kendala Fisik
Besarnya ambisi para raksasa teknologi itu tercermin dari rencana belanja modal (capital expenditure). Secara kolektif, Amazon, Microsoft, dan Google berencana menggelontorkan lebih dari USD500 miliar untuk infrastruktur AI pada tahun fiskal 2026.
Namun, perlombaan itu mulai menemui ganjalan fisik yang serius. Untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir, laju pembangunan pusat data (data center) justru melambat pada paruh kedua tahun 2025.
Ironisnya, penyebab utama perlambatan itu bukanlah kurangnya modal melainkan keterbatasan pasokan listrik serta kelangkaan peralatan elektrikal.
Situasi tersebut memaksa para vendor beralih ke strategi ekspansi yang lebih terarah. Apalagi, permintaan AI kini tidak lagi terbatas pada perangkat keras khusus seperti GPU (Graphics Processing Unit).
Teknologi itu mulai memacu kebutuhan infrastruktur yang lebih luas, mencakup CPU, media penyimpanan (storage), hingga sistem jaringan (networking).
Ketergantungan pada ‘Otak’ yang Sama
Meskipun bersaing sengit dalam memperebutkan pasar, Google, Microsoft, dan AWS berbagi ketergantungan yang sama pada satu pemasok kunci Nvidia.
Dalam konferensi Nvidia GTC awal bulan ini, ketiga raksasa tersebut kompak mengumumkan perluasan kemitraan dengan sang produsen cip asal Amerika Serikat (AS) tersebut.
”Saat ini industri sangat bergantung pada komponen Nvidia meski para vendor tetap berusaha melakukan diferensiasi melalui platform AI masing-masing,” ungkap Alan Pelz-Sharpe (Pendiri Firma Riset Deep Analysis) seperti dikutip CIO Dive.
Fokus pada Orkestrasi dan Tata Kelola
Kini, titik temu persaingan bergeser pada seberapa andal platform AI milik vendor dapat terintegrasi ke dalam sistem perusahaan yang sudah ada.
Amazon, misalnya, telah meluncurkan AWS Transform untuk membantu proyek modernisasi. Di sisi lain, Microsoft terus memperluas penggunaan agen AI untuk mendukung operasional cloud.
Yi Zhang (Analis Senior Omdia) menekankan bahwa kebutuhan utama pelanggan korporasi saat ini adalah aspek reliabilitas dan skala produksi. Hal itulah yang mendorong vendor cloud untuk berinvestasi lebih besar dalam tata kelola alat (tool governance), orkestrasi alur kerja, hingga kemampuan implementasi.
”Ini penting agar AI bisa beralih dari sekadar eksperimen menjadi penggunaan operasional berskala besar,” tegas Zhang.
Dunia sedang menyaksikan fase baru dalam kompetisi teknologi global. Pada akhirnya, siapa pun yang mampu berekspansi dengan paling efisien dan terukur, dialah yang akan memimpin panggung utama AI di masa depan.


