AI Otonom vs SaaS, Masih Perlukah Perusahaan Berlangganan Software?

Ilustrasi akhir era SaaS

​Pasar perangkat lunak global sedang dibayangi kegelisahan besar. Menjelang Februari 2026, nilai pasar perusahaan Software as a Service (SaaS) publik anjlok sekitar 10 persen, menghapus valuasi fantastis sebesar 280 miliar dolar AS dalam waktu singkat.

​Guncangan itu bukan tanpa alasan. Peluncuran Claude Cowork oleh Anthropic yang menawarkan berbagai plugin fungsional menjadi salah satu pemicu utama.

Terlebih lagi, fakta bahwa 90 persen kode Claude kini ditulis oleh AI itu sendiri kian mempertegas kemampuan otonom teknologi ini.

​Fenomena itu memicu pertanyaan ekstrem dari para analis finansial. Akankah perusahaan segera memutus kontrak SaaS mereka yang mahal dan menggantinya dengan agen AI buatan sendiri?.

Meski keruntuhan total model bisnis SaaS tampak mustahil dalam waktu dekat, kemajuan AI saat ini menandai pergeseran paradigma dalam cara organisasi mengembangkan dan memperoleh perangkat lunak.

Bagi para Chief Information Officer (CIO), tantangannya kini bukan lagi soal kapan AI masuk ke perusahaan, melainkan apakah ini akhir dari era SaaS yang kita kenal selama ini.

​Pergeseran Menuju Era “Vibe Coding”

​Udo Sglavo (VP Applied AI di SAS) melihat kehadiran agen AI tidak akan menghapus fungsi aplikasi SaaS tradisional secara total, melainkan mendefinisikan ulang peran perangkat lunak di korporasi.

​”Agen AI akan semakin bertindak sebagai operator otonom lintas sistem, menanggalkan antarmuka grafis (GUI) tradisional dan memunculkan kapabilitas melalui bahasa alami,” ujarnya seperti dikutip dari CIO.

​Kondisi itu melahirkan istilah Vibe Coding, sebuah evolusi dari pengembangan no-code/low-code. Melalui metode ini, CIO mulai bereksperimen menggunakan AI untuk membangun prototipe alat internal secara cepat hanya berdasarkan “instruksi verbal” atau vibe tertentu.

​Bagi perusahaan besar yang rata-rata mengelola lebih dari 600 aplikasi SaaS dengan biaya tahunan mencapai 280 juta dolar AS, opsi membangun sendiri (build) kini menjadi jauh lebih menggoda daripada berlangganan (buy).

Namun, Ashwin Mithra dari CloudBees memberikan peringatan keras bagi mereka yang ingin beralih ke mentalitas tersebut.

​”Membangun secara mandiri sangat masuk akal jika Anda memiliki data atau alur kerja unik yang tidak bisa ditiru vendor manapun. Namun, tanpa kontrol keamanan dan pengujian otomatis yang setara dengan kecepatan AI menghasilkan kode, Anda bukan sedang berinovasi, melainkan menumpuk risiko yang belum terlihat,” tegasnya.

​Standar Baru dalam Evaluasi SaaS

​Alih-alih langsung beralih ke pengembangan internal, banyak pakar menyarankan CIO untuk menaikkan standar evaluasi terhadap penyedia SaaS yang ada. Setidaknya, ada tiga kriteria baru yang kini wajib dipertimbangkan:

  1. ​Ambisi AI: Apakah produk tersebut menawarkan fitur AI paling canggih di kategorinya?
  2. ​Auditabilitas Agen: Mengingat karyawan mulai menggunakan agen AI untuk mengakses alat SaaS, CIO harus memikirkan tata kelola akses dan mekanisme pencabutan izin agen tersebut secara ketat.
  3. ​AI Terintegrasi, Bukan Tempelan: Ronak Sheth, CEO Pricefx, menyarankan pencarian penyedia yang menanamkan AI yang dapat dijelaskan (explainable AI) langsung ke dalam alur kerja inti, bukan sekadar menambahkan fitur chat di atas layar lama.

​Akhir dari Lisensi Berbasis Jumlah Pengguna?

​Salah satu perubahan paling radikal diprediksi terjadi pada struktur harga. Selama ini, SaaS menjual lisensi berdasarkan jumlah pengguna (per-user seat). Namun, ketika pekerjaan mulai dilakukan oleh agen AI secara otonom, model itu menjadi tidak relevan lagi.

​Adi Kuruganti dari (Automation Anywhere) memperingatkan, “Jika harga masih terikat pada akses pengguna, bukan pada hasil yang terukur (outcome-based), itu adalah tanda bahaya.”

​CIO kini didorong untuk lebih agresif menekan vendor saat pembaruan kontrak. Bryan Gibson dari Teramind menyarankan para CIO untuk meminta nilai lebih pada titik harga yang sama.

“Tunjukkan apa yang telah diubah oleh AI pada kapabilitas platform Anda dan produktivitas tim saya. Jika jawabannya dangkal, itu adalah nilai tawar untuk negosiasi Anda,” jelasnya.

​Benteng Terakhir SaaS, Kepercayaan dan Konteks

​Muncul pertanyaan mendasar. Jika semua orang bisa membangun perangkat lunak dengan bantuan AI, mengapa perusahaan masih harus membeli?.

Chuck Ganapathi (CEO Gainsight) memberikan jawaban menohok mengenai “benteng” pertahanan perusahaan perangkat lunak saat ini.

​”Parit pertahanannya bukan lagi kode, melainkan konteks, keahlian domain, dan kepercayaan yang Anda dapatkan dari melayani ribuan pelanggan selama puluhan tahun,” ungkapnya.

​SaaS masa depan harus mampu membuktikan bahwa mereka memberikan nilai lebih melalui integrasi data kepemilikan perusahaan yang mendalam, bukan sekadar menyediakan formulir dan laporan di atas data yang terisolasi.

Dunia sedang bergerak menuju sistem yang agent-accessible, di mana perangkat lunak tidak hanya digunakan oleh manusia, tetapi juga bisa “dibaca” dan dijalankan oleh agen AI lain.

​Meskipun model SaaS tidak akan mati dalam semalam, CIO harus mulai mempersiapkan tim mereka untuk perubahan alur kerja yang masif.

Kuncinya adalah memastikan setiap keputusan teknologi, apakah membangun sendiri atau tetap berlangganan tetap fokus pada satu tujuan utama yaitu memberikan nilai nyata bagi pelanggan di tengah evolusi AI yang tak pernah berhenti.

 

Baca Juga

Google Cloud Next ’26, Akselerasi Transformasi ke Era AI Agentic

Google Cloud resmi memperkenalkan Gemini Enterprise Agent Platform dalam ajang Google Cloud Next ’26 di Las Vegas. Peluncuran ini bukan sekadar pembaruan produk, melainkan sinyal kuat pergeseran paradigma industri: dari sekadar penggunaan AI generatif menuju era Agentic Enterprise.