Di ruang rapat lantai atas, kecerdasan buatan (AI) dipuja sebagai juru selamat produktivitas masa depan. Namun, begitu masuk ke area kerja staf, realitanya justru berbanding terbalik.
Laporan terbaru mengungkap adanya jurang pemisah (disconnect) yang signifikan antara jajaran eksekutif (C-suite) dengan karyawan mengenai urgensi dan peran AI di kantor.
Berdasarkan hasil survei yang dirilis oleh Slingshot bersama induk perusahaannya, Infragistics, pada 5 Maret lalu, terdeteksi perbedaan visi yang tajam tentang sejauh mana AI harus diintegrasikan ke dalam alur kerja harian.
Mandat Atas yang Tersangkut di Level Menengah
Bagi para petinggi perusahaan, adopsi AI bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan mutlak. Sebanyak 86 persen eksekutif yang disurvei menyatakan bahwa penggunaan perangkat AI bersifat wajib di perusahaan. Sayangnya, ambisi ini nampaknya “tersangkut” di level manajemen menengah.
Hanya 49 persen manajer madya yang setuju dengan pandangan tersebut dan benar-benar menginstruksikan bawahan untuk menggunakan AI secara intensif.
Ketidaksinkronan itu tidak hanya menyentuh aspek teknis, tetapi juga merambah ke persepsi terhadap identitas AI itu sendiri.
AI sebagai Rekan Kerja: Lebih dari 40 persen pemberi kerja menyatakan siap menerima AI sebagai “anggota tim baru”.
AI sebagai Alat: Sebaliknya, hanya 20 persen karyawan yang setuju. Mayoritas pekerja masih menganggap AI sekadar “alat bantu yang bermanfaat” tanpa nyawa organisasi.
Miskonsepsi Budaya Data di Lapangan
Selain persoalan adopsi AI, survei itu menyoroti perbedaan persepsi yang kontras mengenai budaya data.
Sementara itu 70 persen eksekutif yakin bahwa karyawan mereka “terus-menerus” mengandalkan data dalam bekerja. Faktanya hanya 31 persen karyawan yang menggunakan data secara konstan.
Alih-alih berinteraksi langsung dengan data setiap saat, banyak pekerja mengaku lebih mengandalkan pengalaman pribadi atau menyerahkan urusan pengolahan data sepenuhnya kepada tim analis khusus.
Dean Guida (CEO Infragistics sekaligus pendiri Slingshot) memberikan catatan kritis terhadap fenomena ini.
”Perusahaan-perusahaan diberitahu bahwa jika mereka masih memandang AI hanya sebagai alat biasa. Mereka sebenarnya sudah tertinggal dan mereka pun menyesuaikan strategi berdasarkan hal itu,” ungkap Guida.
Namun, ia menekankan bahwa visi besar dari ruang pimpinan seringkali gagal meresap hingga ke akar rumput.
”Meskipun jajaran pimpinan mungkin menempatkan AI sebagai pusat dari proses bisnis dan pengambilan keputusan, ‘mentalitas rekan kerja’ itu tidak secara otomatis merembet ke seluruh organisasi,” tambahnya seperti dikutip hrdive.
Menjembatani Jurang Lewat Manajer dan HR
Masalah keselarasan ini ternyata meluas hingga ke urusan talenta. Penelitian dari AMS mengungkapkan bahwa hampir separuh pengambil keputusan merasa tim HR dan pimpinan C-suite tidak sejalan mengenai bagaimana AI seharusnya diterapkan dalam proses perekrutan.
Untuk menjembatani jurang ini, analisis terbaru dari Gartner menyarankan perusahaan agar tidak mengabaikan sumber daya kunci yaitu para manajer. Laporan tersebut menekankan bahwa departemen HR memiliki peran vital dalam membantu manajer untuk:
1. Mengomunikasikan manfaat nyata AI secara spesifik bagi kebutuhan tim mereka.
2. Menyusun rencana strategis untuk memanfaatkan waktu luang yang tercipta berkat efisiensi AI.
Tanpa komunikasi yang efektif dan persepsi yang selaras, ambisi besar korporasi untuk bertransformasi menjadi organisasi berbasis AI terancam hanya berakhir sebagai wacana di tingkat elit, tanpa implementasi nyata di lapangan.


