Strategi “Small Wins”, Pelajaran Adopsi AI dari CIO Gold Bond

Ilustrasi Artificial Intelligence (AI)

​Di tengah gegap gempita agentic AI yang mengguncang industri teknologi, tidak semua organisasi memilih strategi agresif berskala besar.

Bagi Matt Price (CIO Gold Bond Inc), pemasok produk promosi terkemuka, pendekatan yang lebih realistis justru dimulai dari langkah kecil. Alih-alih terjebak dalam ambisi raksasa, Price memilih use case yang jelas, terukur, dan berdampak langsung pada operasional.

​Price mengamati bahwa banyak organisasi, terutama skala menengah, masih berada dalam fase eksplorasi yang penuh ketidakpastian.

“Saya merasa kita belum benar-benar memahami secara utuh apa saja yang bisa dilakukan agen AI,” ujarnya.

​Berangkat dari pemahaman tersebut, perusahaan yang berbasis di Tennessee ini enggan mengejar proyek AI yang belum matang.

Fokus mereka dialihkan pada proyek terarah yang mampu mengeliminasi pekerjaan administratif repetitif atau yang kerap ia sebut sebagai “busy work”.

​Fokus pada Use Case dan Efisiensi Nyata

​Strategi Gold Bond mencerminkan tren yang lebih luas di segmen pasar menengah. Alys Woodward (Senior Director Analyst di Gartner) menilai perusahaan di kategori ini cenderung mengadopsi AI melalui skenario spesifik sambil memanfaatkan alat yang sudah familiar seperti Gemini atau Microsoft Copilot.

​“Bahkan di organisasi menengah, orang-orang jelas menyadari bahwa AI sedang terjadi dan mulai menerapkannya,” kata Woodward, merujuk pada pesatnya perkembangan agen AI.

​Untuk mempercepat transisi ini, Gold Bond menggandeng Promevo, mitra Google, untuk menggelar workshop intensif penggunaan Gemini pada 2024.

Hasilnya impresif, tingkat adopsi melonjak dari 20 persen menjadi 71 persen. Data Promevo bahkan menunjukkan hampir tiga perempat karyawan berhasil menghemat hingga satu jam waktu kerja setiap harinya.

​Mengotomatisasi Workflow yang Rumit

​Salah satu keberhasilan paling nyata terlihat pada pengelolaan administrasi. Setiap tahun, Gold Bond harus menangani sekitar 120.000 invoice dari distributor, sebuah proses yang sebelumnya menyedot waktu luar biasa hanya untuk kategorisasi pesanan dan input data ke ERP Oracle NetSuite.

​“Kami yakin AI bisa mengotomatisasi ini,” tutur Price penuh optimisme seperti dikutip CIO Dive.

​Keyakinan itu diwujudkan melalui proyek percontohan menggunakan Vertex AI di Google Cloud berbasis Gemini.

Dengan mengintegrasikan SuiteScript di Oracle NetSuite, Gold Bond berhasil mengotomatisasi seluruh proses tersebut.

Dampaknya pun transformatif; staf yang sebelumnya menangani input data kini bisa beralih peran menjadi perwakilan layanan pelanggan yang lebih strategis.

​“Setiap malam, kami memasukkan 600 hingga 700 invoice ke Gemini. Kemudian, Gemini menganalisis seluruh artwork dan mengkategorikannya dengan tepat untuk kami,” jelas Price.

Tak hanya itu, perusahaan juga memanfaatkan model pembuat gambar Nano Banana Pro untuk mempercepat proses desain produk, seperti penempatan merek pada botol minuman.

Berburu “Kemenangan Kecil” Menuju 2026

​Meski telah mencapai efisiensi signifikan, ambisi Gold Bond tidak berhenti di situ. Hingga 2026, Gold Bond telah menyiapkan rangkaian proyek baru, termasuk pengembangan agen suara AI bersama mitra telekomunikasi untuk melayani informasi pesanan dan status pengiriman.

​Pada tahap awal, agen suara itu akan beroperasi di luar jam kerja dan hari libur. Namun, ke depannya, teknologi itu akan diintegrasikan ke jam operasional normal dengan kemampuan belajar dari interaksi pelanggan sebelum meneruskan masalah kompleks ke staf manusia.

​“Kami memiliki sekitar 500 pesanan per hari yang masuk. Kami merasa agen suara AI akan menjadi kemenangan besar bagi kami,” ucap Price.

Ia pun menyarankan organisasi lain untuk tidak ragu memulai dari target kecil yang konkret. “Jika memungkinkan, ambil use case kecil… lihat apakah AI bisa mengotomatisasi workflow itu dan memberi kemenangan kecil,” tambahnya.

​Tantangan ROI dan Urgensi Tata Kelola (Governance)

​Di sisi lain, Woodward mengingatkan bahwa CIO di organisasi menengah menghadapi tekanan besar untuk membuktikan Return on Investment (ROI).

Kesuksesan tidak hanya diukur dari penghematan biaya, tetapi juga kepuasan karyawan, kematangan digital, hingga peningkatan layanan pelanggan.

​Namun, di balik kemudahan implementasi, ada risiko governance yang mengintai. Woodward menekankan bahwa ketika pengguna bisnis membangun agen AI sendiri tanpa pengawasan, isu privasi dan keamanan data sering terabaikan. CIO wajib memastikan hanya karyawan dengan literasi AI yang memadai yang memegang kendali sistem.

​Data dari Collibra memperkuat urgensi ini bahwa kurang dari separuh pengambil keputusan IT memiliki kebijakan tata kelola AI formal.

“Jika agen itu akan digunakan lintas departemen, di situlah Anda harus mulai berpikir. Tunggu, kita perlu memastikan orang-orang benar-benar teredukasi tentang ini,” tegas Woodward.

Pelajaran untuk Transformasi Digital

​Pengalaman Gold Bond membuktikan bahwa transformasi AI tidak harus selalu berupa lompatan besar yang berisiko.

Keberhasilan justru sering kali lahir dari akumulasi “kemenangan kecil”, mulai dari otomatisasi workflow sederhana hingga layanan pelanggan yang lebih responsif.

​Di tengah lanskap teknologi yang terus berubah, pendekatan bertahap ini memberikan ruang bagi organisasi untuk belajar, memperkuat fondasi data, dan memastikan inovasi tetap berjalan selaras dengan keamanan.

 

Baca Juga

Google Cloud Next ’26, Akselerasi Transformasi ke Era AI Agentic

Google Cloud resmi memperkenalkan Gemini Enterprise Agent Platform dalam ajang Google Cloud Next ’26 di Las Vegas. Peluncuran ini bukan sekadar pembaruan produk, melainkan sinyal kuat pergeseran paradigma industri: dari sekadar penggunaan AI generatif menuju era Agentic Enterprise.