Di lereng bersalju Copper Mountain, Colorado, suasana menjelang Natal terasa berbeda bagi legenda snowboard Amerika, Shaun White dan Danny Kass. Bersama bintang muda Maddie Mastro, mereka tidak sekadar berlatih.
Usai menuntaskan luncuran di half-pipe, ketiganya segera berkumpul menatap sebuah tablet, bukan untuk mengunggah konten media sosial, melainkan membedah setiap inchi pergerakan tubuh mereka yang telah dikonversi menjadi titik-titik digital.
Pemandangan ini adalah wujud nyata dari alat latihan eksperimental berbasis Kecerdasan Buatan (AI) milik Google Cloud. Dirancang khusus untuk membantu atlet elite U.S. Ski & Snowboard, teknologi itu mampu membedah fisika dan biomekanika dari setiap manuver ekstrem.
Hanya dengan menonton rekaman video dari ponsel, sistem secara otomatis menghitung kalkulasi rumit, mulai dari rotasi flip hingga durasi melayang di udara (airtime).
Bagi Mastro, teknologi ini adalah jembatan menuju kesempurnaan estetik. “Saya ingin snowboarding saya terlihat anggun, lebih enak ditonton, dan lebih halus. Itu target saya,” ujarnya sembari tersenyum melihat metrik rotasi puncak yang muncul di layar.
“Di sini terlihat bagian trik yang sudah bagus, tapi juga titik yang bisa saya perbaiki agar terlihat lebih baik,” ujarnya seperti dikutip Google Cloud.
Dari Intuisi Menuju Data Presisi
Dahulu, analisis gerak dengan presisi tinggi hanya bisa dilakukan di laboratorium yang kaku dengan bantuan kostum bersensor khusus.
Namun, prototipe Google Cloud membalikkan paradigma tersebut, kini ponsel di saku atlet telah bertransformasi menjadi laboratorium biomekanika berjalan.
Teknologi itu dibangun di atas orkestrasi model AI canggih yang menggabungkan penalaran multimodal dan riset visi komputer dari Google DeepMind.
Menjelang Olimpiade Musim Dingin di Italia, tim freestyle ski dan snowboard AS mulai meninggalkan ketergantungan pada “perasaan” semata dan beralih ke pendekatan berbasis data.
Hal ini diamini oleh Alex Hall, peraih emas Olimpiade Beijing 2022. “Data membantu kita tahu apakah sudah mendekati batas,” ungkapnya.
Tantangan Komputasi di Balik Rotasi Ekstrem
Melatih AI untuk memahami olahraga aksi berkecepatan tinggi bukanlah perkara mudah. Jika gerakan lambat relatif mudah dipetakan, maka lompatan dan rotasi kompleks yang terjadi dalam sepersekian detik adalah tantangan komputasi tingkat tinggi.
Untuk mengatasinya, Google Cloud bersama Team USA memproses ratusan jam video performa atlet papan atas seperti Mastro, Hall, dan Colby Stevenson. Alur kerjanya berlapis namun sangat efisien:
- Model Gemini mengidentifikasi atlet dan momen krusial dari rekaman mentah.
- Model DeepMind melakukan estimasi pose 3D dari video 2D, bahkan saat anggota tubuh terhalang kamera.
- Rekonstruksi ini menghasilkan metrik akurat seperti sudut cork (rotasi off-axis).
- Gemini menyajikan hasil tersebut dalam bahasa alami yang mudah dipahami oleh atlet dan pelatih.
”Pelatih” Digital di Dalam Saku
Kecepatan adalah kunci. Dalam waktu singkat, bahkan sebelum atlet kembali mencapai puncak lereng menggunakan lift, analisis lengkap sudah tersedia di genggaman. Sistem ini menyediakan perbandingan dengan percobaan sebelumnya serta saran teknis yang mendalam.
“Kadang rasanya sama, tapi datanya bilang berbeda, itu menarik,” ujar Stevenson. “Lalu kita bisa bertanya, apa yang terasa berbeda dan kenapa angkanya berubah?,” ucapnya.
Kemudahan akses ini dipuji oleh Danny Kass, peraih perak Olimpiade yang kini melatih tim nasional. Menurutnya, kemampuan untuk membedah trik secara instan hanya dengan ponsel adalah lompatan besar. Shaun White bahkan membandingkannya dengan era awal video ponsel satu dekade lalu.
“Sekarang ditambah data seberapa cepat, setinggi apa, berapa lama di udara. Ini permainan angka, dan dampaknya besar bagi atlet,” kata White.
Prioritas Keselamatan
Meski performa adalah daya tarik utama, aspek keselamatan tetap menjadi prioritas yang tak terpisahkan. Mastro mengakui bahwa rasa takut adalah bagian dari olahraga ini, dan data hadir sebagai validasi teknis bahwa seorang atlet sudah cukup aman untuk mencoba trik yang lebih berisiko.
Anouk Patty (Chief of Sport U.S. Ski & Snowboard) menekankan pentingnya mitigasi cedera. Dalam program yang melibatkan ratusan atlet, cedera sering kali menjadi momok yang mengakhiri karier.
“Dengan melihat kerangka tubuh misalnya beban condong ke satu sisi atau penggunaan bahu untuk rotasi, pelatih bisa mengurangi risiko cedera,” jelas Patty.
Dari Olahraga ke Industri Masa Depan
Tren penggunaan AI dalam olahraga memang tengah melesat dalam setahun terakhir. Mulai dari pegolf Bryson DeChambeau hingga bintang NBA Stephen Curry, teknologi Google Cloud terus merambah ke berbagai disiplin ilmu olahraga untuk membantu pengambilan keputusan yang lebih tajam.
Namun, bagi tim pengembang, olahraga hanyalah pintu masuk. Riset pemodelan 3D ini sedang dipersiapkan untuk merambah sektor kesehatan, keselamatan manufaktur, hingga pengembangan kota cerdas.
“Jika kita berhasil memecahkan kode ini. Banyak olahraga dan industri lain yang bisa kita masuki,” kata seorang insinyur Google Cloud,
Melalui AI, ambisi para atlet kini bukan sekadar melompat lebih tinggi, melainkan memahami setiap detik di udara dan mendarat dengan keyakinan yang lebih kuat dari sebelumnya.


